ABK yang Meninggal Bawa 5 Jurnalis, Jadi Tulang Punggung Keluarga dan Rawat Kakak Tunanetra

Surakman, seorang anak buah kapal (ABK) dari Aru Padatu I, telah teridentifikasi. Ia diketahui menjadi bagian dari tim yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026.
Identitas Surakman yang terungkap kembali menarik perhatian publik, terutama setelah video kunjungan Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, ke rumah keluarga Surakman pada 12 September lalu. Dalam video yang diunggah di akun TikTok resmi Dewi, terungkap bahwa Surakman adalah sosok yang sangat berarti bagi keluarganya.
Menurut penjelasan Bupati Pandeglang, Surakman telah berperan aktif dalam membantu dan merawat kakaknya yang kehilangan penglihatan sejak usia empat tahun. Hal ini menunjukkan komitmen dan tanggung jawab besar yang dipikulnya selama ini.
Kakak Surakman berbagi cerita, “Sejak usia empat tahun saya sudah tunanetra.” Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya peran Surakman dalam hidupnya, di mana adiknya menjadi satu-satunya harapan dan sumber dukungan.
Sebelum kejadian naas tersebut, Surakman sempat mengatakan kepada kakaknya bahwa ia akan pulang pada sore hari. Namun, harapan itu tidak terwujud, dan Surakman tidak pernah kembali ke rumah.
“Dia bilang sama saya, ‘nanti sore pulang’,” jelas kakaknya, yang tampak sangat kehilangan.
Kakak perempuan Surakman juga menambahkan bahwa selama bekerja sebagai ABK, adiknya tidak pernah membawa tas besar. Ia hanya membawa kantong plastik untuk mengganti pakaian dan peralatan mesin yang dibutuhkan.
“Surakman tidak pernah bawa tas, paling bawa plastik untuk baju ganti. Alat mesin dan kunci-kunci yang ia bawa,” ungkapnya dengan penuh kesedihan.
Melihat kondisi yang sulit, kakak Surakman hanya bisa pasrah dan menumpahkan air mata di pelukan Bupati Pandeglang saat itu, menggambarkan betapa beratnya situasi yang mereka hadapi.
Sebelumnya, sebuah jasad tanpa identitas ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu Utara, dan kemudian terkonfirmasi sebagai salah satu dari delapan orang yang ada di kapal Aru Padatu I yang hilang.
Kapolda Banten, Inspektur Jenderal Polisi Hengki, mengonfirmasi bahwa jasad tersebut adalah Surakman, anak buah kapal yang terlibat dalam insiden tersebut. Identifikasi dilakukan setelah Polda Banten bekerja sama dengan Polda Bengkulu, mengirimkan data antemortem dan postmortem dari delapan orang yang masih hilang.
Proses pencocokan identitas dilakukan oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri dengan menggunakan data primer, termasuk sidik jari, gigi, dan DNA. Hasil pemeriksaan DNA memastikan identitas jasad yang ditemukan di Bengkulu sebagai milik Surakman.
Kisah Surakman bukan hanya tentang seorang ABK, tetapi juga tentang tanggung jawab dan pengorbanan seorang saudara. Dalam situasi yang tragis ini, banyak yang tergerak untuk memahami betapa pentingnya peran Surakman dalam hidup keluarganya.
Secara keseluruhan, Surakman adalah sosok yang berdedikasi, yang selalu siap membantu keluarganya meskipun harus menghadapi risiko dalam pekerjaannya. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap tragedi, ada cerita manusia yang penuh dengan harapan dan perjuangan.
Keberanian Surakman dalam menghadapi tantangan hidup akan selalu diingat oleh keluarganya, yang kini harus melanjutkan hidup tanpa kehadirannya. Masyarakat pun diajak untuk menghargai kerja keras dan pengorbanan para pekerja seperti Surakman yang sering kali tidak terlihat tetapi memiliki dampak besar bagi orang-orang terdekat mereka.
➡️ Baca Juga: Rusia Tingkatkan Pasokan Minyak dan Gas ke Negara Mitra di Tengah Gejolak Pasar Energi
➡️ Baca Juga: Ulasan POCO Terbaru: Performa Tinggi dengan Harga yang Terjangkau dan Kompetitif




