happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

depo 10k depo 10k
bisnis

Harga Minyak Dunia Mencapai US$103, Dampak Kebijakan Trump Terhadap Pasar Global

Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi laporan yang menyatakan bahwa dia bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran.

Faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak ini tidak hanya berasal dari respon Trump, tetapi juga dari perkembangan terbaru dalam negosiasi antara AS dan Iran, serta upaya pemulihan pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah.

Menurut laporan Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak November yang akan berakhir pada Rabu mengalami kenaikan sebesar 71 sen atau 0,69 persen, menjadi US$103,30 per barel, yang setara dengan sekitar Rp1,85 juta per barel jika menggunakan kurs Rp17.900 per dolar AS. Sementara itu, kontrak Brent Desember yang lebih aktif juga mengalami kenaikan sebesar 35 sen, mencapai harga US$96,51 per barel atau sekitar Rp1,73 juta.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga mencatatkan kenaikan, dengan harga naik 43 sen atau 0,48 persen menjadi US$89,81 per barel, yang setara dengan sekitar Rp1,61 juta per barel.

Kenaikan harga ini terjadi setelah Trump membantah laporan dari Axios yang diambil dari pejabat AS mengenai kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Iran serta pembebasan dana Iran yang saat ini dibekukan. Langkah tersebut dikatakan dapat diambil sebagai imbalan atas tindakan konkret dari Teheran terkait program nuklirnya.

“Ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai potensi pelonggaran sanksi dan proses negosiasi ini membuat premi risiko geopolitik tetap terintegrasi dalam harga,” ungkap Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet, sebuah perusahaan riset yang berlokasi di New Delhi.

“Walaupun peningkatan pasokan dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut, gangguan baru atau eskalasi ketegangan di kawasan bisa memicu lonjakan harga lainnya,” tambahnya.

Di sisi lain, Qatar mengungkapkan harapannya bahwa upaya diplomasi antara Iran dan AS dapat menghasilkan kemajuan yang signifikan. Perkembangan ini menjadi perhatian penting bagi para pelaku pasar, karena keberhasilan negosiasi berpotensi memengaruhi risiko pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah.

Kenaikan yang terjadi pada hari Rabu juga memperkuat performa minyak Brent sepanjang bulan September. Diperkirakan bahwa Brent akan mencatatkan kenaikan sekitar 14 persen dalam sebulan, menjadikannya penguatan bulanan terbesar sejak bulan Juli.

Sementara itu, harga WTI berada pada jalur kenaikan sekitar 4 persen sepanjang bulan September. Sebelumnya, harga WTI sempat menembus angka US$106 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak bulan Mei.

Perbedaan harga antara kedua acuan minyak tersebut juga melebar hingga mencapai level terluas dalam empat bulan terakhir. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kemungkinan rencana AS untuk membatasi ekspor diesel.

➡️ Baca Juga: Manajemen Keuangan Bijak untuk Kesejahteraan Finansial Jangka Panjang yang Aman

➡️ Baca Juga: Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso Terima Penghargaan Legislator Peduli HAM di KWP Award

Related Articles

Back to top button