Transisi Bisnis Hijau: Pupuk Indonesia Tingkatkan Ketahanan Produksi di Era Global

Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen untuk menjaga ketahanan produksi sambil mendorong transformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini sangat relevan di tengah tantangan ketidakpastian geopolitik dan dorongan untuk transisi energi yang berkelanjutan.
Yehezkiel Adiperwira, Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), menegaskan bahwa perusahaan menempatkan keseimbangan antara operasional dan pencapaian target iklim sebagai prioritas utama.
“Memasuki era ekonomi rendah karbon bukanlah suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan. Oleh karena itu, sektor industri harus tetap beroperasi, sambil tetap memenuhi target-target iklim yang telah ditetapkan,” ujar Yehezkiel dalam sebuah sesi diskusi bertajuk Green Tech for Tomorrow di Jakarta, pada 16 April 2026.
Dari sisi operasional, Yehezkiel menambahkan bahwa Pupuk Indonesia mengedepankan kemandirian bahan baku sebagai landasan untuk memastikan ketahanan industri. Ketersediaan gas alam domestik menjadi faktor krusial yang menjaga stabilitas produksi pupuk nasional, terutama di tengah ancaman gangguan pada rantai pasok global.
Sebagai contoh, ia menjelaskan bahwa potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat memengaruhi sekitar 30 persen pasokan urea dunia tidak memberikan dampak pada Indonesia. Hal ini disebabkan oleh ketahanan pasokan urea yang kuat, didukung oleh kapasitas produksi yang memadai serta ketersediaan bahan baku gas alam di dalam negeri.
Sejalan dengan itu, Pupuk Indonesia menargetkan untuk memproduksi sekitar 7,8 juta ton urea pada tahun ini, sedangkan kebutuhan domestik diperkirakan mencapai 6,3 juta ton. Kondisi surplus produksi ini tidak hanya memastikan keamanan pasokan dalam negeri, tetapi juga memberikan kesempatan bagi Pupuk Indonesia untuk berkontribusi sebagai stabilisator pasokan urea di tingkat global.
“Namun perlu kami tekankan, prioritas kami adalah memastikan bahwa kebutuhan pupuk dalam negeri dapat terpenuhi terlebih dahulu,” tegasnya.
Di sisi lain, perusahaan juga memperkuat strategi dekarbonisasi dengan mengembangkan portofolio energi bersih. Salah satu fokus utama adalah pengembangan amonia bersih, termasuk amonia hijau yang berbasis pada sumber energi terbarukan, serta amonia biru yang memanfaatkan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
Pendekatan ini diterapkan secara bertahap sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam serta menekan emisi dari proses produksi.
“Kami sedang menyiapkan strategi secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam, salah satunya melalui pengembangan amonia hijau berbasis energi terbarukan dan amonia biru yang didukung oleh teknologi CCUS,” ungkap Yehezkiel.
➡️ Baca Juga: Analisis TNI Perkuat Pertahanan Siber Di Mata Politik
➡️ Baca Juga: Kasus Penculikan: Upaya Penegakan Hukum yang Diperlukan




