Pertamina Siap Memimpin Inisiatif Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia

PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan ekosistem penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS serta Carbon Capture, Utilization, and Storage/CCUS) di Indonesia. Inisiatif penting ini merupakan bagian dari penerapan Strategi Pertumbuhan Ganda perusahaan, bertujuan mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Ini juga sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Emma Sri Martini, selaku Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha (SPPU) di PT Pertamina (Persero), mengungkapkan bahwa perusahaan telah melakukan penyesuaian untuk merespons dinamika geopolitik global, tantangan perubahan iklim, serta kemajuan teknologi dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).
“Di tengah upaya global untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memperpanjang siklus hidup bisnis bahan bakar fosil, Pertamina melalui Strategi Pertumbuhan Ganda membagi fokusnya menjadi dua pilar utama: memaksimalkan bisnis inti dan mengembangkan bisnis rendah karbon,” jelas Emma saat memberikan sambutan kunci di Forum Internasional CCS Indonesia (IICCS Forum) 2026 yang berlangsung pada 26-27 Agustus 2026 di Jakarta.
Emma menambahkan bahwa pilar pertama dari Strategi Pertumbuhan Ganda Pertamina ditujukan untuk memperkuat bisnis utama melalui peningkatan produksi dan lifting hulu migas. Ini mencakup penerapan teknologi CCUS atau CO2 EOR untuk meningkatkan produksi hulu, memperbarui dan meningkatkan fleksibilitas enam kilang, serta melakukan transformasi bisnis bahan bakar dan ritel untuk menghadapi era kendaraan listrik (EV). Selain itu, perusahaan juga fokus pada penguatan rantai pasok gas dan perkapalan.
Pilar kedua dari strategi ini berfokus pada pengembangan bisnis rendah karbon yang bertujuan memperkuat ketahanan energi serta hilirisasi industri nasional, sesuai dengan Asta Cita nomor 2 dan 5. Langkah-langkah yang diambil antara lain ekspansi bahan bakar hayati (biofuel) seperti biodiesel B50, pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan bioetanol, serta peningkatan kapasitas panas bumi melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang menguasai hampir sepertiga dari cadangan nasional. Selain itu, pengembangan ekosistem karbon, termasuk CCS/CCUS dan perdagangan karbon juga menjadi bagian penting dari inisiatif ini.
Lebih lanjut, Emma mengungkapkan bahwa integrasi bisnis yang dilakukan oleh Pertamina memberikan perusahaan peran yang signifikan di sepanjang rantai nilai CCS. Hal ini mencakup mulai dari sumber emisi, proses penangkapan, pencairan (liquefaction), pengangkutan laut, hingga injeksi penyimpanan dan monetisasi karbon. Dengan pendekatan holistik ini, Pertamina berupaya untuk tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui inovasi dalam teknologi dan bisnis.
➡️ Baca Juga: Relawan Bakti BUMN Rayakan HUT RI ke-81 dengan Aksi di 11 Lokasi Termasuk Lampung Selatan
➡️ Baca Juga: Polisi Ungkap Sindikat Live Streaming Pornografi di Indramayu, Remaja Terjebak sebagai Korban




