www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

www.happy.com.tr

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

ojs.unsiq.ac.id

depo 10k depo 10k
berita

Badan Geologi Jelaskan Erupsi Berkelanjutan Gunung Anak Krakatau dan Dentuman Keras

Anak Krakatau adalah gunung berapi aktif tipe A yang terletak di Selat Sunda, dan secara administratif berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pengamatan terhadap aktivitas gunung ini dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang terletak di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Peristiwa erupsi besar yang terjadi pada tahun 1883 meninggalkan catatan sejarah yang penting, di mana peristiwa tersebut juga memicu tsunami yang mengerikan. Selain itu, pada 22 Desember 2018, guncangan gempa bumi mengaktifkan erupsi Anak Krakatau dan menyebabkan longsoran sebagian tubuh gunung yang berujung pada terjadinya tsunami di Selat Sunda.

Sejak kejadian tersebut pada 22 Desember 2018, serangkaian erupsi berskala kecil telah berlangsung, menandai fase pemulihan dan pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau. Aktivitas ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga 16 Desember 2023, dengan jeda yang cukup panjang sebelum terjadinya erupsi lagi pada tanggal 2 Juli 2026.

Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM, Lana Saria, mengungkapkan bahwa sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau dinyatakan berada pada Level III (Siaga). Erupsi yang terjadi adalah tipe Strombolian, yang menghasilkan lontaran batu pijar serta abu vulkanik, dan berlangsung secara berkesinambungan hingga tanggal 5 September 2026.

Pada 5 September 2026, tepatnya pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang terus menerus disertai dengan suara gemuruh yang menggema. Hingga saat ini, yaitu 5 September 2026 pukul 04.40 WIB, erupsi masih berlangsung dan suara gemuruh dapat terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran, menunjukkan aktivitas erupsi yang intens.

“Meski tinggi kolom erupsi tidak teramati, semburan lava yang berwarna merah menyala dapat terlihat jelas secara terus menerus. Fenomena ini mirip dengan lava fountain yang menghasilkan aliran lava. Erupsi yang berlangsung dalam jangka waktu beberapa jam dan berkaitan dengan lava air mancur adalah kejadian yang umum. Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan oleh warga di berbagai wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berhubungan dengan aktivitas erupsi gunung Anak Krakatau yang terjadi bersamaan,” jelas Lana, seperti yang tertera dalam laman resmi geologi.esdm pada 5 September 2026.

Lebih lanjut, Lana menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi yang dilakukan hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca erupsi pada 22 Desember 2018 masih tergolong kecil dan tidak menunjukkan potensi untuk mengalami keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami. Namun, meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap menjadi perhatian utama dan dipantau secara intensif.

➡️ Baca Juga: Prabowo Sampaikan Persahabatan Dekat Indonesia dan Korea kepada Lee Jae Myung

➡️ Baca Juga: PsiQuantum Kembangkan Komputer Kuantum Raksasa Menggunakan Teknologi Berbasis Cahaya

Related Articles

Back to top button