Pengangguran Terbuka Usia Muda Mencapai 17,37 Persen, Tantangan Akses Kerja dan Pendidikan

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026, angka pengangguran terbuka di kalangan anak muda berusia 15 hingga 24 tahun mencapai 17,37 persen. Angka ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran nasional yang hanya berada di angka 4,65 persen. Selain itu, sekitar 19,44 persen dari populasi muda di Indonesia termasuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, and Training), menunjukkan tantangan signifikan dalam keterlibatan mereka di dunia kerja atau pendidikan.
Meskipun Jakarta memiliki tingkat kemiskinan yang tergolong rendah, yaitu 4,03 persen, rasio gini di ibukota ini mencatat angka 0,435. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan yang tinggi dalam pengeluaran penduduk, mencerminkan adanya jurang ekonomi yang cukup lebar di antara berbagai lapisan masyarakat. Ketidakmerataan ini menjadi salah satu faktor yang memperburuk akses bagi kaum muda dalam mendapatkan peluang yang setara dalam bidang ekonomi.
Kaum muda yang berasal dari latar belakang prasejahtera sering kali terjebak dalam keterbatasan yang signifikan. Mereka menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari akses pendidikan yang minim hingga kesempatan kerja yang terbatas. Selain itu, mereka juga kehilangan peluang untuk mengembangkan potensi diri mereka. Dampak dari situasi ini tidak hanya berpengaruh pada kesejahteraan individu, tetapi juga memperburuk masalah sosial di komunitas tempat mereka tinggal, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Dalam upaya mengatasi tantangan tersebut, Yayasan Bulir Padi meluncurkan Program Kewirausahaan Sosial YBP bekerja sama dengan Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FBIS Atma Jaya). Program ini dirancang untuk menjawab masalah ketenagakerjaan yang dihadapi anak muda di Indonesia, terutama bagi mereka yang berasal dari komunitas yang kurang beruntung.
Program ini mengusung prinsip Green Economy dan Circular Economy dalam perancangan usaha yang diusulkan oleh peserta. Pendekatan ini menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal secara bertanggung jawab, pengurangan limbah, serta perpanjangan siklus penggunaan material. Dengan cara ini, diharapkan dapat tercipta nilai tambah melalui inovasi yang ramah lingkungan, menghasilkan model usaha yang tidak hanya berkelanjutan secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Tia Sutresna, Ketua Yayasan Bulir Padi, menjelaskan, “Kewirausahaan sosial adalah salah satu strategi yang paling efektif untuk menciptakan peluang ekonomi sekaligus mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan bagi anak muda yang kami bina. Melalui pendekatan social entrepreneurship, baik anak binaan maupun alumni kami diperlengkapi dengan kemampuan untuk membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan.”
Program ini menerapkan pendekatan Community-Based Social Entrepreneurship, di mana setiap kelompok peserta dibentuk berdasarkan komunitas asal mereka. Dengan cara ini, ide-ide usaha yang dikembangkan benar-benar berakar dari kebutuhan masyarakat, potensi lokal, sumber daya yang ada, peluang ekonomi, dan isu-isu lingkungan yang relevan. Selain itu, sebagai yayasan yang menekankan pengembangan karakter bagi anak binaan, program ini juga merupakan wujud nyata dari tanggung jawab sosial dan kesadaran kewarganegaraan, diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki empati dan kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
➡️ Baca Juga: Target Penyelesaian 30 Ribu Kopdes Merah Putih pada Akhir Agustus, Operasional Menunggu Perpres
➡️ Baca Juga: DPP Golkar Salurkan Ribuan Paket Rendang Kaleng Sebagai Solidaritas untuk Warga Palestina




