Ali Masykur Musa Memimpin International Naqshabandi Council untuk Perdamaian dan Jejaring Tasawuf Global

Ali Masykur Musa telah menerima amanah baru dalam dunia tasawuf internasional setelah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua International Naqshabandi Council (INC) dalam gelaran 6th International Naqshbandi Festival & 2nd International Naqshabandi Conference, yang berlangsung di Bukhara, Uzbekistan.
Pemilihan ini dilaksanakan pada tanggal 19 September 2026 di Bukhara State Technical University. Dalam acara tersebut, yang dihadiri oleh berbagai pengamal, ulama, mursyid, akademisi, dan delegasi Naqshbandi dari 14 negara, juga dilakukan pembacaan Deklarasi Piagam Bukhara. Deklarasi ini menandai lahirnya International Naqshabandi Council sebagai sebuah jaringan tasawuf global.
Bagi Ali Masykur, jabatan ini bukan sekadar simbol kehormatan. Amanah yang diterimanya membawa tanggung jawab besar untuk membangun komunikasi dan persaudaraan di antara komunitas Naqshbandi dari berbagai negara, serta mempertemukan keragaman tradisi dan latar belakang sosial yang berbeda.
“Amanah ini bukanlah sebuah mahkota untuk dibanggakan, tetapi merupakan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ungkap Ali Masykur dalam keterangannya yang dirilis pada 21 September 2026.
Selain menjabat sebagai Ketua INC, Ali Masykur juga merupakan Komisaris Independen PT PLN (Persero). Ia telah memegang posisi di PLN sejak November 2024 dan saat ini juga memimpin JATMAN (Mudir ‘Ali Idarah ‘Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah), menunjukkan komitmennya dalam pengembangan tasawuf.
Didirikannya INC memberikan dimensi baru bagi pertemuan Naqsyabandiyah internasional yang berlangsung di Bukhara. Tradisi Naqsyabandiyah, yang berasal dari Asia Tengah, telah berkembang melampaui batas-batas geografi asalnya. Dalam beberapa abad terakhir, jaringan ini menyebar melalui hubungan antarsesama ulama, pusat-pusat pendidikan, dan mobilitas masyarakat menuju Asia Selatan, Asia Kecil, serta kawasan-kawasan lain. Penelitian terbaru juga mengungkapkan peran penting jalur perdagangan dalam penyebaran tradisi Naqsyabandiyah.
Bukhara, kota yang terletak di jalur bersejarah Silk Roads, telah ada selama lebih dari dua ribu tahun. UNESCO mencatat bahwa Bukhara selama berabad-abad berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam yang signifikan. Antara abad ke-9 hingga ke-16, kota ini berkembang menjadi salah satu pusat teologi Islam yang terkemuka, khususnya dalam bidang tasawuf. Pusat sejarah Bukhara telah terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1993.
Kota ini juga memiliki keterkaitan yang erat dengan Khwaja Bahauddin Naqshband, seorang tokoh penting pada abad ke-14, yang namanya diabadikan dalam tradisi Naqsyabandiyah. Bukhara memiliki tempat istimewa dalam sejarah tersebut, karena di sinilah Bahauddin Naqshband hidup dan dimakamkan. Kompleks makamnya kini menjadi salah satu situs spiritual yang penting di Uzbekistan, meliputi makam, khanqah, masjid, nekropolis, serta museum yang mengangkat sejarah tasawuf.
➡️ Baca Juga: Kapal Pesiar Raksasa Hadirkan Dunia Disney dan Roller Coaster Marvel di Lautan
➡️ Baca Juga: Ustaz Riza Muhammad Mengajak Netizen untuk Cerdas Menanggapi Kritik Pamer Otot di Media Sosial




