Dampak Kenaikan Harga Plastik Akibat Perang AS-Iran Terhadap Konsumen dan Industri

Jakarta – Selain minyak mentah yang menjadi pusat perhatian di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, harga plastik juga mengalami lonjakan yang signifikan, memicu kepanikan di kalangan pedagang di Indonesia. Berbagai pakar menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik ini berdampak luas, baik bagi pelaku industri maupun konsumen.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen plastik yang diproduksi secara global berasal dari bahan bakar fosil, dengan minyak mentah sebagai sumber utama. Sejak konflik ini dimulai, harga minyak mentah telah melonjak dari sekitar US$67 per barel hingga mencapai lebih dari US$98 pada puncaknya.
Akibatnya, peningkatan harga energi ini turut meningkatkan biaya produksi dan harga bahan baku seperti polyethylene (PE) dan polypropylene. Lonjakan harga minyak mentah yang lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026 tidak mengherankan jika menyebabkan biaya produksi plastik semakin tinggi, yang pada gilirannya berdampak pada kenaikan harga bagi konsumen.
Harrison Jacoby, Direktur polyethylene di Independent Commodity Intelligence Services, mengungkapkan bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab utama lonjakan harga plastik. Ia menambahkan bahwa ketergantungan global terhadap kawasan Timur Tengah sebagai pemasok utama bahan baku plastik dunia sangat signifikan, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total ekspor dunia.
Jacoby juga mencatat bahwa sekitar 84 persen kapasitas polyethylene yang ada di Timur Tengah mengandalkan Selat Hormuz sebagai jalur utama untuk ekspor melalui laut, yang menjelaskan mengapa situasi ini begitu berpengaruh terhadap harga plastik di pasar global.
Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange, bahkan menyatakan bahwa lonjakan harga ini merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data dari Plastics Exchange menunjukkan bahwa harga resin plastik telah meningkat dua digit dalam rentang waktu 30 hari terakhir di hampir semua kategori manufaktur.
“Saya telah berkecimpung dalam industri plastik selama 25 tahun, dan belum pernah menyaksikan kenaikan bulanan sebesar ini pada harga polyethylene,” ungkap Greenberg.
Profesor Patrick Penfield dari Syracuse University menambahkan bahwa produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, botol minuman, dan kantong sampah menjadi yang paling pertama terpengaruh oleh kenaikan harga. Ia memperkirakan bahwa harga produk-produk tersebut masih akan terus meningkat dalam beberapa minggu ke depan.
Penfield juga mengungkapkan bahwa efek dari kenaikan harga plastik tidak hanya terbatas pada barang-barang sehari-hari. Hal ini disebabkan plastik berperan penting di hampir seluruh rantai pasok, mulai dari kemasan hingga proses manufaktur.
Sejalan dengan pandangan Penfield, ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, menyatakan bahwa biaya kemasan yang meningkat diprediksi akan mendorong harga makanan dalam dua hingga empat bulan mendatang, seiring dengan produsen yang mulai menghabiskan stok lama mereka. Ia menggambarkan situasi ini sebagai fenomena yang membingungkan bagi konsumen.
➡️ Baca Juga: Konflik Global: Penyebab, Dampak, dan Strategi Resolusi di Era Modern
➡️ Baca Juga: Mario Aji Jatuh Saat Kejar Poin, Jadi Peringatan Penting untuk Honda Team Asia di Moto2 Spanyol




