Raja Kripto Prediksi Harga Bitcoin Akan Mencapai Rp359 Miliar per Keping

Jakarta – Michael Saylor, sosok yang dikenal sebagai raja kripto dan CEO dari Strategy, telah melontarkan prediksi yang cukup berani mengenai pergerakan harga Bitcoin. Menurutnya, aset digital terkemuka ini dapat meroket hingga mencapai US$21 juta per koin, yang setara dengan sekitar Rp359,9 miliar berdasarkan estimasi kurs Rp17.140 per dolar AS.
Saylor menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap masa depan Bitcoin meskipun saat ini harganya masih jauh dari puncak tertinggi yang pernah dicapai. Pandangan optimis Saylor muncul setelah perusahaan Strategy melakukan akuisisi terhadap 13.927 BTC, dengan total investasi mencapai US$1 miliar dan harga rata-rata per koin sebesar US$71.902.
Dengan transaksi terbaru ini, cadangan Bitcoin yang dimiliki oleh Strategy kini mencapai 780.897 BTC per 12 April 2026. Total investasi untuk akumulasi ini telah mencapai sekitar US$59,02 miliar, yang berarti harga rata-rata setiap keping Bitcoin adalah US$75.577.
“Saya yakin bahwa pada akhirnya Bitcoin akan mencapai US$21 juta per koin,” ungkap Saylor saat diwawancarai oleh Yahoo Finance pada Rabu, 15 April 2026.
Saylor memaparkan pandangannya yang optimis tentang Bitcoin ini dengan merujuk pada beberapa faktor kunci yang dapat mendukung lonjakan harga tersebut. Salah satu faktor utama adalah pengakuan dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, Eropa, dan Jepang yang menganggap Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang.
Selain itu, adopsi yang lebih luas oleh sistem perbankan juga dianggap krusial. Saylor menilai bahwa regulasi yang ada saat ini masih membatasi penggunaan Bitcoin sebagai jaminan oleh bank, yang pada gilirannya menghambat potensi ekspansi kredit berbasis aset kripto.
Faktor lain yang berpengaruh adalah meningkatnya sekuritisasi Bitcoin melalui berbagai instrumen keuangan seperti exchange-traded fund (ETF). Saylor berpendapat bahwa langkah ini dapat menjadi jembatan bagi arus dana besar dari investor institusi menuju pasar kripto.
Ia juga menyoroti adanya potensi tekanan pada pasokan Bitcoin akibat pertumbuhan kredit yang didukung oleh aset digital ini. Menurutnya, setiap tambahan kredit sebesar US$10 miliar yang dijamin dengan Bitcoin dapat menyerap pasokan baru yang dihasilkan dari penambangan selama satu tahun.
Saylor menambahkan bahwa berkurangnya praktik rehypothecation, di mana Bitcoin digunakan berulang kali sebagai jaminan, dapat memberikan dorongan positif terhadap harga. Jika lebih banyak investor memilih untuk menyimpan Bitcoin dalam jangka panjang, pelaku pasar yang melakukan short selling mungkin akan terpaksa membeli kembali aset tersebut, yang berpotensi menyebabkan lonjakan harga.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Terapkan Pajak Karbon Mulai Awal 2026
➡️ Baca Juga: Kisah Pengusaha Garmen Manfaatkan E-commerce Buat UMKM Naik Kelas




