Presiden Federasi Italia Tegaskan Politisi Hanya Mendorong Saya untuk Mundur di Masa Krisis

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, telah resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatannya setelah tim nasional Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil setelah menghadapi tekanan signifikan dari berbagai pihak, termasuk kalangan pemerintah.
Gravina menyampaikan pengunduran dirinya setelah mengadakan pertemuan di kantor pusat FIGC yang terletak di Roma, pada hari Kamis waktu setempat. Keputusan tersebut diambil hanya sehari setelah Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka menyerukan agar dia mundur dari posisinya.
Kekalahan pahit kembali dialami Italia setelah tersingkir di babak playoff, di mana mereka mengalami kekalahan dramatis dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti. Dengan hasil ini, negara yang telah meraih gelar juara dunia sebanyak empat kali itu gagal berpartisipasi di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, Gravina mengungkapkan kritik terhadap tekanan yang datang dari kalangan politisi.
“Hanya politisi yang terus-menerus mendorong saya untuk mundur,” tegas Gravina.
Ia juga mengakui bahwa kondisi sepak bola Italia saat ini sangat memprihatinkan. “Sepak bola Italia saat ini sedang berada dalam krisis yang cukup dalam,” tambahnya.
Kegagalan tim nasional ini langsung berdampak pada struktur kepengurusan sepak bola Italia. FIGC telah mengumumkan bahwa pemilihan presiden yang baru akan dilaksanakan pada 22 Juni mendatang. Nama Giovanni Malagò kini muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikan posisi Gravina.
Selain itu, pelatih tim nasional, Gennaro Gattuso, juga diperkirakan akan mengikuti jejak Gravina dalam langkah mundur. Di sisi lain, manajer umum tim nasional sekaligus legenda sepak bola Italia, Gianluigi Buffon, telah lebih dulu menyatakan pengunduran dirinya.
Sebelumnya, Italia mengalami kegagalan untuk lolos ke Piala Dunia setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina. Kekalahan ini sangat menyakitkan bagi para penggemar, mengingat Gli Azzurri sempat menunjukkan perlawanan yang kuat sebelum akhirnya terpaksa menyerah melalui adu penalti.
Kondisi semakin sulit ketika bek kunci Alessandro Bastoni menerima kartu merah pada babak pertama, yang menjadi titik balik dalam pertandingan tersebut.
Kegagalan ini memicu kemarahan di kalangan publik. Banyak penggemar menilai performa tim sangat mengecewakan dan mengkritik keputusan pelatih yang dianggap tidak tepat. Media di Italia bahkan menyebut situasi ini sebagai kutukan Piala Dunia, mengingat terakhir kali Italia tampil di ajang tersebut adalah pada tahun 2014.
➡️ Baca Juga: Aplikasi Viral yang Memudahkan Aktivitas Kerja Fleksibel Sehari-Hari di Era Modern
➡️ Baca Juga: Rekor Tertinggi, Harga Emas Antam Tembus Rp 2 Juta Per Gram




