Harga Energi Melonjak Sebabkan Perlambatan Ekonomi di Asia Timur-Pasifik, Proyeksi Diperbarui

Jakarta – Bank Dunia mengungkapkan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik global yang mengakibatkan lonjakan harga energi dapat berujung pada perlambatan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam waktu dekat.
Dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang dirilis baru-baru ini, pertumbuhan ekonomi kawasan ini diperkirakan akan merosot menjadi 4,2 persen pada tahun 2026, turun dari 5,0 persen yang diproyeksikan untuk tahun 2025.
Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, mengemukakan bahwa ketegangan di Timur Tengah merupakan faktor utama yang memicu kenaikan harga energi global, yang selanjutnya memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Lonjakan harga energi ini memperburuk hambatan dalam perdagangan internasional, menambah ketidakpastian dalam kebijakan global, serta meningkatkan tantangan yang dihadapi oleh beberapa negara di dalam negeri.
Dia menambahkan bahwa lonjakan harga bahan bakar yang dapat mencapai 50 persen berpotensi mengurangi pendapatan masyarakat antara 3 hingga 4 persen. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi menjadi yang paling terpengaruh oleh situasi ini.
“Dukungan yang tepat bagi masyarakat dan sektor usaha dapat membantu mempertahankan lapangan kerja saat ini, sementara pelaksanaan reformasi struktural yang tertunda dapat mendorong pertumbuhan di masa depan,” jelas Mattoo dalam konferensi pers yang diadakan secara daring dari Jakarta, pada 9 April 2026.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa konflik di Timur Tengah yang terjadi sejak 28 Februari telah menyebabkan guncangan besar dalam harga energi global. Indeks harga gas alam tercatat naik hingga 90 persen, sementara harga minyak mentah mengalami kenaikan lebih dari 30 persen.
Kawasan ini juga berperan sebagai pemasok utama pupuk, aluminium, dan produk petrokimia. Qatar dan Arab Saudi, misalnya, menyuplai lebih dari 10 persen ekspor pupuk nitrogen di seluruh dunia.
Menurut penilaian Bank Dunia, dampak lonjakan harga energi terhadap negara-negara di Asia Timur dan Pasifik akan sangat bergantung pada tingkat kerentanan masing-masing terhadap fluktuasi harga minyak, kondisi ekonomi, dan kebijakan yang diambil sebagai respons. Laporan ini menyatakan bahwa dampak dari guncangan harga energi bervariasi antara negara.
Negara-negara kepulauan di Pasifik seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu termasuk yang paling rentan, bersama dengan negara-negara pengimpor energi besar seperti Thailand dan Mongolia, yang menghadapi tekanan pada neraca perdagangan dan keterbatasan fiskal.
Sebaliknya, negara-negara dengan struktur ekonomi yang lebih kuat seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia diperkirakan lebih mampu menghadapi guncangan ini. Ketahanan mereka didukung oleh cadangan strategis, kapasitas kilang domestik, serta pendapatan dari ekspor komoditas yang dapat berfungsi sebagai penyeimbang.
➡️ Baca Juga: Aplikasi Ringan yang Meningkatkan Kinerja Smartphone Secara Optimal Setiap Hari
➡️ Baca Juga: Polisi Sita Ratusan Motor Bodong Hasil Razia Akhir Tahun




