ESG Menjadi Pertimbangan Utama dalam Arah Investasi Investor di Pasar Modal

Bursa Efek Indonesia (BEI) menekankan bahwa penerapan Environmental Social Governance (ESG) kini menjadi prioritas utama bagi emiten dalam menjalankan operasional bisnis mereka. Hal ini juga menjadikan ESG sebagai faktor penting dalam pertimbangan para investor.
Jeffrey Hendrik, Penanggung Jawab Sementara Direktur Utama BEI, menyatakan bahwa indeks ESG di BEI semakin diandalkan dalam pengambilan keputusan investasi. Terutama, terdapat peningkatan perhatian dari investor global terhadap sektor energi terbarukan dan transisi energi yang berkelanjutan.
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026, Jeffrey mengungkapkan bahwa terdapat 72 reksadana pasif dan exchange-traded fund yang berbasis saham terdaftar di bursa, dengan total dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
“BEI menawarkan enam indeks berbasis ESG untuk mendorong inovasi dalam produk investasi yang berkelanjutan, menyediakan platform, panduan untuk pelaporan ESG, serta program edukasi bagi para pelaku investasi. Kami juga berkolaborasi dengan regulator dan mitra strategis seperti Katadata,” ungkap Jeffrey dalam keterangan persnya.
Inisiatif ini menjadi dasar bagi Katadata untuk meluncurkan KESGI (Katadata ESG Insight) Dashboard melalui Katadata Green. Dashboard ini mengumpulkan dan menganalisis data ESG dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di pasar saham, dilengkapi dengan penilaian dari panel ahli dan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung implementasi ESG di perusahaan Indonesia.
Peluncuran KESGI Dashboard berlangsung dalam Katadata ESG Forum yang bertema “ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi & Bisnis Hijau,” yang diadakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Senin (6/4). Forum ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari kalangan regulator, pemimpin perusahaan, investor, dan pelaku industri.
Metta Dharmasaputra, Co-founder dan CEO Katadata, menyatakan bahwa pengembangan inisiatif ini berakar dari keyakinan bahwa ekonomi hijau dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen.
“Tanpa dukungan dari sektor ini, mencapai target pertumbuhan tersebut akan menjadi tantangan yang besar,” tambah Metta.
Dalam survei yang dilakukan oleh BEI bersama Mandiri Institute pada tahun 2024 terhadap 150 perusahaan, Metta menyoroti tantangan utama yang dihadapi, seperti kurangnya data kuantitatif yang memadai, keterbatasan sumber daya manusia, dan tingginya biaya dalam pengumpulan data ESG.
Heri Susanto, Co-founder dan Chief Content Officer Katadata, menekankan bahwa KESGI Dashboard merupakan langkah untuk mempermudah pemahaman tentang data ESG. Dengan demikian, analisis perkembangan ESG di Indonesia bisa dilakukan dengan lebih jelas, mendalam, dan cepat.
➡️ Baca Juga: Telkomsel Raih Dua Penghargaan Asian Telecom Awards 2026 Berkat Inovasi AI untuk Keamanan Digital
➡️ Baca Juga: Jaga Kesehatan Tubuh dengan Kebiasaan Sehari-hari yang Sederhana dan Efektif




