Pejabat tinggi dari kelompok Houthi di Yaman telah memperingatkan Amerika Serikat bahwa jika negara tersebut terlibat dalam operasi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi, maka mereka akan memberikan respons yang cepat dan menyakitkan.
Dalam sebuah pernyataan, pejabat tersebut menekankan, “Kami akan memberikan respons yang cepat dan menyakitkan yang akan menargetkan Amerika Serikat beserta semua kepentingannya di kawasan ini,” seperti yang dilaporkan oleh NHK Japan pada hari Selasa (13/10/2026).
Peringatan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan kemungkinan keterlibatan negaranya dalam operasi militer yang ditujukan untuk melawan Houthi. Pernyataan ini disampaikan menyusul serangan yang dilakukan oleh Houthi terhadap bandara internasional di Riyadh, yang mengakibatkan 14 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka.
Trump menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan keterlibatan AS dengan mengatakan, “Kami mungkin akan mempertimbangkan hal itu,” saat ditanya pada hari Sabtu mengenai dukungan terhadap Arab Saudi dalam operasi militer melawan Houthi.
Sementara itu, laporan dari kantor berita Reuters menyebutkan bahwa otoritas Arab Saudi memperpanjang penutupan bandara tersebut hingga hari Sabtu (17/10) disebabkan kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Houthi.
Pada hari Senin, koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang mendukung pemerintah sementara Yaman, mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencegat sebuah rudal Houthi yang ditujukan ke Riyadh.
Di sisi lain, surat kabar The Wall Street Journal melaporkan, mengutip sumber dari pejabat Arab Saudi, bahwa persediaan rudal pencegat negara tersebut semakin menipis. Media tersebut menyoroti bahwa meningkatnya ketegangan dalam konflik ini menjadi tantangan baru bagi keamanan kerajaan serta rencana Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi perekonomian Arab Saudi yang masih sangat bergantung pada minyak.
Pertempuran masih berlangsung di sekitar Taiz, kota yang terletak di wilayah barat daya Yaman, menunjukkan bahwa situasi di lapangan tetap tegang dan kompleks.
➡️ Baca Juga: KPK Tangkap Tiga Pejabat Imigrasi Bali dan Amankan Rp6 Miliar dalam Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA
➡️ Baca Juga: Rusia Tingkatkan Pasokan Minyak dan Gas ke Negara Mitra di Tengah Gejolak Pasar Energi
