Ali Khamenei Dikabarkan Ragu Jika Mojtaba Khamenei Menggantikan Posisi Tertingginya

Intelijen Amerika Serikat telah menginformasikan kepada Presiden Trump dan sejumlah pembantunya bahwa pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal, Ayatollah Ali Khamenei, meragukan kemampuan putranya untuk menggantikannya.
Analisis dari sumber intelijen menunjukkan bahwa Khamenei senior merasa khawatir tentang potensi penggantian posisinya oleh putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Kekhawatiran ini muncul dari anggapan bahwa Mojtaba kurang memiliki kecerdasan dan kualifikasi untuk memimpin. Selain itu, sumber-sumber yang dekat dengan pemerintah dan komunitas intelijen menyebutkan bahwa Ali Khamenei juga menyadari adanya masalah dalam kehidupan pribadi putranya.
Mojtaba Khamenei baru-baru ini diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Dewan Ulama Iran, setelah sebelumnya menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai ajudan dekat ayahnya. Pengangkatan ini terjadi sekitar delapan hari setelah kematian Ali Khamenei akibat serangan rudal yang dilancarkan oleh Israel, yang menandai dimulainya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam beberapa diskusi pribadi, Trump mengungkapkan pandangannya bahwa informasi mengenai Mojtaba Khamenei sebenarnya kurang signifikan. Ia berpendapat bahwa saat ini Iran tampaknya tidak memiliki pemimpin yang kuat, dan bahkan menduga bahwa Khamenei yang lebih muda mungkin sudah tiada. Gedung Putih menilai bahwa saat ini Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengambil alih kendali, yang merupakan perubahan besar dari kepemimpinan teokratis yang telah ada sejak revolusi 1979.
Sementara itu, juru bicara CIA, Gedung Putih, dan Wakil Presiden menolak untuk memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai situasi ini.
Pada hari Jumat lalu, Trump secara terbuka mengangkat isu kurangnya kepercayaan Ali Khamenei terhadap putranya.
“Pemimpin mereka telah tiada. Kepemimpinan kedua mereka juga telah pergi. Sekarang, kepemimpinan yang ketiga ini menghadapi masalah, dan ini bukan sosok yang diharapkan oleh sang ayah,” ucap Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara.
Trump menilai sosok pemimpin baru Iran sebagai sosok yang ‘ringan’, yang dianggapnya kurang berpengalaman, lemah dalam politik, dan tidak cukup kuat untuk memimpin negara sebesar Iran. Ia juga menambahkan bahwa pemimpin baru ini akan menjadi figur yang ‘tidak dapat diterima’ oleh Amerika Serikat, sekaligus menandakan keinginan AS untuk terlibat dalam pengawasan pemimpin berikutnya di Iran.
Sebelumnya, pemerintah federal juga menawarkan hadiah senilai 10 juta dolar atau setara dengan Rp 150 miliar bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi tentang lokasi Mojtaba Khamenei serta sembilan pejabat penting lainnya dari Iran.
➡️ Baca Juga: Peluang Mobil Listrik di Tengah Kenaikan BBM, Teknologi Cas 5 Menit BYD, dan Komunitas EV Hyundai
➡️ Baca Juga: Legislator PDIP Berikan Edukasi Hukum kepada Kepala Desa di Bali untuk Hindari Kasus Hukum




