Pasokan Energi Dunia Terganggu dan Dampaknya Terhadap Sektor Energi di Indonesia

Ketegangan geopolitik yang melanda dunia saat ini, terutama antara Amerika Serikat dan Iran, telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas yang signifikan. Dampak dari ketegangan ini mulai terasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, seiring terganggunya aliran pasokan energi melalui Selat Hormuz pada bulan Maret 2026.
Lonjakan harga minyak dan liquefied natural gas (LNG) menjadi perhatian utama di banyak negara, mengingat ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil impor. Indonesia, yang masih mengandalkan pasokan energi dari luar negeri, tidak luput dari dampak situasi ini.
Dalam menghadapi tantangan global tersebut, Indonesia memiliki posisi yang cukup strategis. Negara ini kaya akan cadangan mineral kritis yang berperan penting dalam rantai pasok energi dan industri dunia, memberikan harapan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi eksternal.
Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform, berpendapat bahwa dinamika geopolitik saat ini memberikan Indonesia peluang untuk berperan lebih signifikan di kancah internasional.
“Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan persaingan global terkait mineral kritis, posisi Indonesia sangat menguntungkan berkat cadangan nikelnya, tembaga, bauksit, dan timah, yang menjadi fondasi utama bagi industri,” ungkap Fabby dalam pernyataannya tertulis pada 30 Maret 2026.
Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Desember 2024 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya nikel sebesar 6,74 miliar ton, dengan cadangan mencapai 3,13 miliar ton. Selain itu, sumber daya tembaga di Indonesia diperkirakan mencapai 18,336 miliar ton dengan cadangan 2,86 miliar ton.
Untuk bauksit, tercatat total 7,79 miliar ton bijih mentah, 3,93 miliar ton bauksit yang telah dicuci, serta 1,32 miliar ton alumina. Sementara itu, sumber daya bijih timah mencapai 8,27 miliar meter kubik dengan cadangan sebesar 6,43 miliar meter kubik.
Fabby menekankan bahwa di tengah fragmentasi rantai pasok global, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi penyuplai bahan mentah, tetapi juga dapat meningkatkan perannya dalam rantai nilai global jika mampu mengelola sumber daya tersebut dengan baik.
“Penguatan industri berbasis sumber daya ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk melangkah menuju rantai nilai global yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa elektrifikasi transportasi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi serta untuk menekan beban subsidi energi yang selama ini membebani anggaran negara.
➡️ Baca Juga: Manfaat Kesehatan Mengonsumsi Ikan Laut Kaya Omega 3 untuk Tubuh Anda
➡️ Baca Juga: Trump Akan Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus: Dia Mencintai Dunia




