Super scatter mengusung konsep grafis dinamis dengan tampilan modern

PGSoft berikan bagi-bagi bonus cosmic lightning parade dengan sensasi baru

Super scatter bagikan hadiah kemerdekaan scatter prosper adventure dengan peluang menarik

Transformasi teknologi global mahjong ways membantu memahami studi evolusi big data berbasis ai

Starlight princess menggabungkan unsur bintang dan fantasi

Starlight princess dan perjalanan popularitasnya di komunitas mbg

PGSoft berikan bagi-bagi bonus eternal lightning parade dengan sensasi baru

Ulasan slot online playtech dengan variasi pola dan server teruji

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus zeus star adventure dengan hadiah berlimpah

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden glory adventure dengan hadiah berlimpah

Super scatter hadirkan bagi-bagi kejutan lucky jewel path dengan hadiah melimpah

Super scatter mengusung tampilan cerah dengan konsep grafis yang dinamis

Starlight princess menyuguhkan pemandangan galaksi dengan gaya fantasi

Ulasan teknis mengapa game grid sangat populer

PGSoft berikan bagi-bagi bonus ruby lightning parade dengan sensasi baru

Wild Bounty hadirkan bagi-bagi kejutan lucky glory parade dengan kejutan istimewa

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden star adventure dengan hadiah berlimpah

Wild Bandito dan pengalaman bermain yang dibagikan komunitas mbg

depo 10k depo 10k
bisnis

Harga Emas Dunia Anjlok ke US$4.200, JPMorgan Ungkap Faktor Penyebabnya

Jakarta – Harga emas dunia mengalami penurunan yang dramatis pada perdagangan pagi hari Senin, 23 Maret 2026. Penurunan ini menandai kinerja mingguan terburuk sejak tahun 1983, sekaligus menghapus seluruh keuntungan yang diperoleh sepanjang tahun 2026, di tengah belum meredanya konflik di Timur Tengah.

Di pasar spot, harga emas diperdagangkan pada level US$4.288, yang setara dengan sekitar Rp72,67 juta per ons (dengan asumsi kurs Rp 16.950 per dolar AS), mengalami penurunan lebih dari 10 persen dalam waktu satu minggu. Sementara itu, harga emas berjangka turut merosot hingga 7 persen.

“Penurunan harga ini sangat signifikan,” ungkap Kepala Strategi Logam Mulia di JPMorgan, Greg Shearer, dalam pernyataannya yang dikutip dari Yahoo Finance pada Senin, 23 Maret 2026.

Shearer menjelaskan bahwa emas yang sebelumnya berada dalam tren penguatan yang solid di awal tahun kini menjadi aset yang ditinggalkan oleh banyak investor, terutama di tengah gejolak akibat konflik di Timur Tengah. Penurunan harga ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran terhadap emas dan logam mulia lainnya, seiring dengan lonjakan harga minyak global akibat ketegangan di kawasan tersebut.

“Emas terjebak dalam risiko penyebaran yang disebabkan oleh aksi jual yang masif,” tambahnya.

Kondisi ini telah mendorong ekspektasi inflasi yang meningkat, serta menimbulkan kekhawatiran bahwa bank sentral di seluruh dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed), tidak akan melakukan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Di Eropa, beberapa pejabat juga mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menaikkan suku bunga acuan.

Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi semakin memberikan tekanan pada harga emas. Sebagai sebuah aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi lain yang menawarkan return yang lebih tinggi.

Sejak konflik mulai pecah, harga emas dilaporkan telah turun lebih dari 14 persen. Hal ini disebabkan oleh tindakan pelaku pasar yang menjadikan logam mulia sebagai sumber likuiditas yang dibutuhkan.

“Dalam jangka pendek, penguatan dolar AS dan tingginya likuiditas emas menjadikannya sebagai sumber dana saat pasar mengalami tekanan,” jelas Ewa Manthey, seorang Commodities Strategist di ING.

Sebelumnya, harga emas sempat mencatat lonjakan yang signifikan, dengan kenaikan hingga 65 persen sepanjang tahun 2025. Kini, kekhawatiran mulai muncul di kalangan pelaku pasar mengenai perubahan dukungan struktural dari bank sentral, terutama di tengah tantangan likuiditas global yang semakin ketat.

Shearer menambahkan bahwa ketakutan di kalangan investor semakin meningkat, terutama terkait dengan kombinasi tekanan ekonomi, fluktuasi harga energi, dan perubahan nilai tukar, yang dapat memengaruhi kebijakan pembelian emas oleh bank sentral. Namun, analis dari JPMorgan tetap optimis melihat prospek jangka panjang untuk harga emas.

➡️ Baca Juga: Kapal Pesiar Raksasa Hadirkan Dunia Disney dan Roller Coaster Marvel di Lautan

➡️ Baca Juga: Percepatan Pembangunan Huntap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Signifikan

Related Articles

Back to top button