Rencana Prabowo Menjadi Penengah Antara Iran dan Israel-AS Dinilai Tidak Realistis

Jakarta – Mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dino Patti Djalal, menyatakan bahwa keinginan Prabowo Subianto untuk berperan sebagai penengah antara konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran dianggap tidak realistis.
Pernyataan tersebut disampaikan Dino melalui akun resmi media sosialnya pada Minggu, 1 Maret 2025.
Dino menegaskan, “Ini adalah sebuah angan-angan yang tidak mungkin terwujud. Kita perlu mengakui kenyataan ini.”
Dia menjelaskan bahwa terdapat empat faktor utama yang mendasari pandangannya mengenai aspirasi Prabowo.
Faktor pertama adalah tentang keegoisan Amerika Serikat sebagai negara adidaya. Dino menilai, dalam situasi di mana mereka melancarkan serangan militer, Amerika Serikat tidak akan menerima mediasi pihak ketiga dengan mudah.
“Ego Amerika terlalu tinggi. Saya yakin bahwa Presiden Trump tidak akan menginginkan keterlibatan Indonesia, karena fokus utama yang ada saat ini adalah menjatuhkan pemerintahan Iran,” tambahnya.
Selanjutnya, dia juga mengungkapkan dugaan yang berkembang di Washington DC bahwa tindakan militer ini bisa jadi merupakan cara untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal Epstein Files yang melibatkan nama Donald Trump.
Faktor kedua yang diungkapkan berkaitan dengan hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran. Dino mencatat bahwa kerjasama antara kedua negara dalam 15 bulan terakhir ini masih sangat terbatas.
Prabowo bahkan belum pernah melakukan pertemuan dengan Presiden Iran, meskipun ada undangan resmi yang diberikan.
“Menlu Sugiono juga belum melaksanakan kunjungan bilateral ke Teheran. Dengan kata lain, tidak ada landasan kepercayaan yang cukup kuat dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia saat ini,” jelasnya.
Faktor ketiga, Dino menambahkan, adalah kemungkinan adanya kendala teknis dan diplomatik dalam proses mediasi. Dia meyakini bahwa baik Donald Trump maupun Menlu AS, Marco Rubio, tidak akan bersedia untuk melakukan kunjungan ke Teheran untuk bernegosiasi.
Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan besar berupa keharusan untuk berkomunikasi dengan Israel. Jika mediasi tersebut terjadi, Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai salah satu aktor kunci dalam konflik ini.
“Secara politik, diplomatik, dan logistik, hal ini sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan oleh Indonesia,” tegasnya.
Dino memperingatkan bahwa berusaha untuk memaksakan diri sebagai penengah dalam situasi yang kompleks ini justru bisa membahayakan posisi Presiden di dalam negeri.
➡️ Baca Juga: Cara Deteksi Aplikasi Spyware yang Menyamar sebagai Game atau Tool di Android-mu
➡️ Baca Juga: Ma’ruf Amin: Pesan Penting untuk Menteri Prabowo di Tengah Krisis



