PSSi Menyatakan Keheranan Terhadap Sikap Rasis Suporter Super League

Anggota Komite Eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Arya Sinulingga, mengungkapkan rasa keprihatinannya terkait dengan kembalinya kasus rasisme yang mengemuka di dunia sepak bola Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah diskriminasi rasial masih menjadi tantangan serius dalam olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan sportivitas.
Baru-baru ini, dua pemain dari Super League menjadi sasaran ujaran kebencian bernada rasis di media sosial. Mereka adalah Mikael Alfredo Tata dari Persebaya Surabaya dan Kakang Rudianto dari Persib Bandung, yang mengalami serangan tersebut setelah pertandingan ketat yang berakhir imbang 2-2 pada 2 Maret 2026.
Kedua pemain tersebut tidak sendirian dalam menghadapi tindakan tidak terpuji ini. Sebelumnya, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, dua pemain dari Malut United, juga mengalami hal serupa setelah pertandingan melawan Persib pada bulan Desember 2025. Ini menunjukkan bahwa masalah rasisme di sepak bola Indonesia bukanlah hal baru.
Lebih jauh lagi, rasisme juga pernah menimpa Denilson Junior, pemain Ratchaburi FC, setelah timnya bertanding melawan Persib di leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two 2025/2026 di Bandung pada bulan Februari lalu. Kasus-kasus ini menandakan bahwa budaya rasisme masih mengakar dalam beberapa segmen penggemar sepak bola.
Arya menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi arena yang mengedepankan fair play dan menolak segala bentuk diskriminasi. Ia menyatakan, “Sepak bola identik dengan fair play. Di dunia sepak bola juga ada gerakan kuat anti-rasisme. Jadi saya heran kenapa kita begitu mudah menulis atau berbicara dengan nada rasis.”
Fenomena ini terasa sangat ironis, mengingat masyarakat Indonesia sering kali menjadi korban rasisme di negara lain. Arya menambahkan, “Lucu juga kalau dipikir-pikir. Kita orang Indonesia malah jadi rasis, padahal biasanya kita yang sering kena rasis di luar.”
Kepala PSSI itu pun mempertanyakan mengapa masyarakat Indonesia bisa menjadi pelaku diskriminasi, meskipun bangsa Asia sering kali menjadi target rasisme di berbagai belahan dunia. Ia mempertanyakan, “Di dunia ini orang Asia sering jadi korban rasisme. Tapi sekarang kenapa kita malah jadi pelaku? Itu yang jadi pertanyaan.”
Arya, yang merupakan tangan kanan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, berharap agar para suporter dan masyarakat lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan untuk tidak mudah menuliskan komentar yang mengandung unsur rasis, yang hanya akan memperburuk keadaan.
“Kami berharap ada kesadaran baru. Jangan ada lagi ungkapan-ungkapan seperti itu karena sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jangan terlalu mudah menulis tanpa berpikir,” ujarnya.
Pendidikan dan kesadaran mengenai isu rasisme dalam konteks olahraga sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif. Suporter diharapkan dapat menyadari dampak dari kata-kata mereka dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi pemain serta citra sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
PSSI sebagai lembaga yang memfasilitasi perkembangan sepak bola di Indonesia perlu mengambil langkah proaktif dalam menangani isu ini. Langkah-langkah seperti penyuluhan tentang anti-rasisme dan kampanye kesadaran dapat menjadi cara untuk merubah pola pikir suporter.
Kampanye-kampanye ini harus melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemain, klub, hingga suporter. Dengan kolaborasi yang baik, diharapkan sikap rasis suporter dapat diminimalisir dan sepak bola Indonesia bisa menjadi lebih inklusif.
Penegasan kembali tentang pentingnya fair play dalam sepak bola harus terus digaungkan. Dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari diskriminasi, sepak bola dapat tumbuh menjadi lebih baik dan menjadi alat persatuan bagi masyarakat.
Kepedulian terhadap isu ini tidak hanya menjadi tanggung jawab PSSI, tetapi juga setiap individu yang terlibat dalam dunia sepak bola. Melalui edukasi dan kesadaran kolektif, diharapkan rasisme dapat dihapuskan dari lapangan sepak bola Indonesia.
Menjaga etika serta moral dalam berkomentar, terutama di media sosial, adalah kunci untuk menciptakan atmosfer yang lebih sehat. Setiap suporter diharapkan untuk lebih bijak dan bertanggung jawab atas kata-kata yang mereka tuliskan.
Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat berharap untuk menciptakan budaya sepak bola yang bebas dari rasisme. Hal ini tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi pemain, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mencintai olahraga ini.
Akhirnya, mari kita semua berkomitmen untuk mendukung sepak bola yang bersih dari segala bentuk diskriminasi. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama menjadikan sepak bola Indonesia sebagai contoh yang baik di pentas dunia.
➡️ Baca Juga: Janice Tjen Siap Bertemu Aryna Sabalenka di Babak Ketiga Indian Wells
➡️ Baca Juga: Hello world!




