Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada tanggal 20 Maret 2026, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap gagasan gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Ia menyampaikan pernyataan tersebut setelah mengklaim bahwa Iran telah mengalami kemunduran yang signifikan.
“Saya tidak berniat untuk melakukan gencatan senjata. Anda tidak seharusnya mengakhiri peperangan ketika pihak lawan sudah dalam posisi terpuruk,” ungkapnya kepada wartawan sebelum beranjak dari Gedung Putih.
Saat ditanya mengenai kesediaan Israel untuk mengakhiri konflik bersamaan dengan AS, Trump menjawab, “Saya rasa mereka akan setuju. Hubungan kami sangat harmonis… Kami memiliki tujuan yang sejalan… Kami menginginkan kemenangan, dan itu menjadi harapan kami berdua.”
Pernyataan tersebut muncul beberapa jam setelah Trump menyatakan keinginannya untuk membuka dialog dengan Iran, meskipun ia menilai bahwa “tidak ada pihak yang dapat diajak berdiskusi” setelah serangkaian serangan AS dan Israel yang berlangsung selama berminggu-minggu, mengakibatkan terbunuhnya sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani.
Iran pun menolak untuk terlibat dalam pembicaraan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa tanggung jawab atas perang ini sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat serta dampaknya yang meluas di kawasan tersebut.
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Trump juga meremehkan pentingnya Selat Hormuz, yang merupakan rute utama pengiriman minyak global, meskipun banyak pengiriman minyak internasional melewati jalur tersebut.
“Kita tidak bergantung pada selat itu… Kita tidak membutuhkannya. Eropa yang membutuhkannya. Begitu juga Korea Selatan, Jepang, dan China… Jadi, mereka seharusnya lebih terlibat,” jelasnya.
Jalur perairan itu telah menjadi sorotan penting dalam diskusi energi global, terutama setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan penutupan bagi sebagian besar kapal sebagai respons terhadap serangan gabungan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Setelah Trump meminta dukungan internasional untuk membuka kembali selat tersebut, banyak negara menolak, menunjukkan bahwa AS memulai konflik ini tanpa konsultasi yang memadai, sehingga menjadikan Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perang yang terjadi.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat sejak dimulainya serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Laporan menunjukkan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan sekitar 1.300 korban jiwa, termasuk lebih dari 150 anak-anak dari sebuah sekolah dasar perempuan.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset yang dianggap terkait dengan AS di seluruh wilayah, yang semakin memperburuk dinamika konflik yang sedang berlangsung.
➡️ Baca Juga: DPP Golkar Salurkan Ribuan Paket Rendang Kaleng Sebagai Solidaritas untuk Warga Palestina
➡️ Baca Juga: Donald Trump Tanggapi Ancaman Iran Mundur dari Piala Dunia 2026 dengan Respons Kuat
