Kelompok pemberontak Houthi yang berbasis di Yaman baru saja melancarkan serangan rudal balistik ke Israel, menandai langkah pertama mereka dalam keterlibatan konflik yang lebih luas sejak dimulainya ketegangan antara AS-Israel dan Iran pada 28 Februari. Serangan ini membuka babak baru dalam dinamika konflik di Timur Tengah yang sudah tegang.
Pernyataan resmi mengenai serangan ini disampaikan oleh Brigadir Jenderal Yahya Saree, juru bicara militer Houthi, yang menginformasikan melalui saluran televisi Al-Masirah yang dimiliki oleh kelompok tersebut. Dalam pengumumannya, dia menekankan bahwa serangan ini bukanlah yang terakhir dan akan berlanjut hingga tujuan yang mereka tetapkan tercapai.
Saree menegaskan bahwa aksi militer ini akan terus dilakukan sampai agresi terhadap semua lini perlawanan dihentikan, mengacu pada pernyataan sebelumnya dari angkatan bersenjata Houthi. Ini menunjukkan keteguhan Houthi dalam menanggapi situasi yang berkembang di kawasan tersebut.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah berhasil mencegat satu dari sejumlah rudal yang diluncurkan dalam serangan tersebut, menunjukkan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi ancaman dari luar.
Serangan rudal ini terjadi tidak lama setelah Saree memberikan sinyal tegas dalam pernyataan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa kelompok Houthi siap terlibat lebih jauh dalam konflik yang telah mengguncang Timur Tengah dan berdampak pada ekonomi global.
Dalam pernyataannya, Saree menjelaskan bahwa Houthi menargetkan beberapa lokasi militer yang dianggap sensitif di bagian selatan Israel, menandakan bahwa mereka memiliki rencana strategis dalam melancarkan serangan ini.
Di wilayah sekitar Beer Sheba dan area dekat pusat riset nuklir utama Israel, sirene peringatan berbunyi untuk ketiga kalinya sejak Jumat malam hingga Sabtu. Ini menunjukkan bahwa serangan dari Iran dan Hizbullah berlangsung selama semalaman, menciptakan suasana ketegangan di kawasan tersebut.
Sejak tahun 2014, Houthi telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, tetapi mereka belum terlibat langsung dalam konfrontasi antara AS dan Israel hingga saat ini. Hal ini menandakan pergeseran dalam keterlibatan mereka dalam konflik yang lebih besar di Timur Tengah.
Sebelumnya, serangan Houthi terhadap kapal-kapal dagang selama konflik Israel-Hamas telah mengganggu jalur perdagangan di Laut Merah. Jalur ini menjadi sangat penting karena setiap tahun dilalui barang-barang dengan nilai mencapai sekitar 1 triliun dolar AS atau setara dengan 15,5 kuadriliun Rupiah.
Antara November 2023 dan Januari 2025, Houthi telah melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal dagang menggunakan rudal dan drone. Dalam serangan tersebut, mereka berhasil menenggelamkan dua kapal dan menyebabkan empat awak kapal kehilangan nyawa.
Pada tahun 2024, pemerintahan Donald Trump juga sempat melancarkan serangan balasan terhadap Houthi, yang hanya berlangsung selama beberapa minggu sebelum akhirnya mereda. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang kompleks antara kekuatan internasional dan kelompok pemberontak ini dalam konteks konflik yang lebih luas.
➡️ Baca Juga: Kolaborasi Udinus–BBPJT: ‘Sibaja’ untuk Pelestarian Budaya Digital
➡️ Baca Juga: Arab Saudi Usir Atase Militer dan Staf Kedubes Iran dalam Waktu 24 Jam
