Jaguar Land Rover Hadapi Ancaman PHK Ribuan Pekerja Akibat Persaingan Mobil China

Jaguar Land Rover (JLR) berencana untuk mengurangi sekitar 4.000 posisi kerja dalam dua tahun ke depan. Produsen mobil asal Inggris yang terkenal dengan merek Range Rover, Discovery, dan Jaguar ini tengah berupaya untuk menekan biaya operasional sambil menghadapi persaingan yang semakin intens, terutama dari produsen mobil asal China.

JLR saat ini memiliki sekitar 43.000 karyawan di seluruh dunia, dengan sebagian besar berlokasi di Inggris. Rencana pemangkasan tenaga kerja ini lebih difokuskan pada posisi manajerial dan karyawan bergaji tetap, bukan pada pekerja di lini produksi langsung.

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi penghematan yang ditargetkan mencapai 1,7 miliar poundsterling, atau sekitar Rp37 triliun berdasarkan kurs Rp22.000 per poundsterling. Melalui langkah ini, JLR berharap dapat menurunkan titik impasnya, sehingga hanya perlu menjual sekitar 300.000 kendaraan per tahun untuk mencapai keseimbangan modal.

Persaingan yang dihadapi JLR dari produsen mobil China menjadi salah satu tantangan terbesar saat industri otomotif global bergerak menuju elektrifikasi. Merek-merek asal China menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang jauh lebih kompetitif, memaksa JLR untuk berinvestasi besar dalam pengembangan teknologi baru agar tetap bersaing.

Tekanan persaingan ini semakin mendalam di pasar China, yang merupakan salah satu pasar kunci bagi produsen mobil premium. JLR juga berjuang menghadapi penurunan penjualan, di mana biaya produksi yang meningkat dan kondisi geopolitik turut menambah tantangan bagi kinerja perusahaan.

Selain persaingan dari mobil China, kebijakan tarif Amerika Serikat juga menjadi masalah serius bagi JLR. Kendaraan yang diproduksi di Inggris dan diekspor ke Amerika Serikat dikenakan tarif, meskipun telah ada kesepakatan antara kedua negara yang memberikan tarif lebih rendah untuk kuota tertentu.

JLR masih berusaha pulih dari serangan siber besar yang terjadi pada tahun 2025. Insiden ini mengakibatkan gangguan produksi di beberapa fasilitas di Inggris selama beberapa pekan, memberikan dampak signifikan terhadap operasional dan keuangan perusahaan.

Kinerja keuangan JLR juga mencerminkan dampak berat dari tekanan yang dihadapi. Pada kuartal yang berakhir Juni 2026, pendapatan perusahaan mengalami penurunan sebesar 9,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi sekitar 6 miliar poundsterling, sementara laba sebelum pajak dan pos-pos tertentu merosot hampir 69 persen menjadi 109 juta poundsterling.

➡️ Baca Juga: Menghasilkan Pendapatan Melalui Jasa Pembuatan Karakter Animasi Maskot Bisnis yang Menarik

➡️ Baca Juga: PsiQuantum Kembangkan Komputer Kuantum Raksasa Menggunakan Teknologi Berbasis Cahaya

Exit mobile version