Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini menyampaikan bahwa Presiden Iran telah mengajukan permohonan untuk gencatan senjata. Dalam pernyataannya pada Rabu, 1 April, waktu setempat, Trump menyatakan bahwa AS hanya akan mempertimbangkan permintaan tersebut jika Selat Hormuz dapat dibuka dan dilindungi dengan aman.
“Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran habis-habisan atau, seperti istilah mereka, mengembalikannya ke Zaman Batu!!!” tulisnya di akun media sosial Truth, seperti yang dilaporkan oleh CNBC Internasional pada Kamis, 2 April 2026.
Menanggapi pernyataan tersebut, Teheran langsung membantah klaim bahwa mereka telah meminta gencatan senjata. Sebuah laporan dari Al Jazeera pada pagi hari yang sama mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa pernyataan Trump tidak akurat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancaranya dengan Al Jazeera pada hari Selasa, menekankan bahwa Teheran tidak mencari gencatan senjata, melainkan berupaya untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
“Saat ini tidak ada proses negosiasi yang berjalan,” ungkap Araghchi dalam wawancara tersebut.
Sementara itu, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan terkait permintaan informasi tambahan mengenai perbedaan antara klaim permintaan gencatan senjata tersebut.
Tidak jelas apakah permohonan tersebut benar-benar diajukan langsung kepada AS, sebagaimana yang diungkapkan oleh Trump, atau melalui pihak ketiga, seperti Pakistan.
Di sisi lain, meskipun Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mungkin saja meminta gencatan senjata, keputusan akhir tetap berada di tangan pemimpin tertinggi Iran, bukan presiden.
Pemimpin tertinggi saat ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum tampil di hadapan publik sejak dilantik, setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan udara di awal perang.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, kedua belah pihak sering berselisih mengenai klaim yang menyatakan ada atau tidaknya pembicaraan damai.
Pernyataan Trump di platform Truth Social muncul beberapa jam sebelum ia dijadwalkan memberikan pidato penting mengenai Iran, menurut informasi dari Gedung Putih.
Pidato tersebut direncanakan akan berlangsung pada pukul 21.00 waktu setempat.
Konflik yang telah berlangsung sekitar sebulan ini telah menyebabkan kekacauan ekonomi yang signifikan, serta fluktuasi harga energi global yang tajam. Gejolak ini sebagian besar disebabkan oleh kemampuan Iran untuk menghalangi jalur di Selat Hormuz, yang merupakan rute utama bagi pengiriman minyak dunia.
➡️ Baca Juga: Polri Kembangkan Laboratorium Sains Sosial untuk Menciptakan Karakter Personel Unggul dan Adaptif
➡️ Baca Juga: Proyeksi Kinerja Penjualan Eceran Maret 2026 Menunjukkan Pertumbuhan yang Positif
