Houthi Terus Serang Bandara Arab Saudi: Faktor Penyebab Utamanya

Kelompok Houthi yang beroperasi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru yang terjadi pada Minggu (11/10) di Bandara King Khalid, Riyadh. Serangan ini menyebabkan satu orang tewas dan melukai hampir sepuluh orang lainnya di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi. Insiden tersebut terjadi hanya sehari setelah serangan lain yang mengakibatkan 13 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 300 orang terluka.

Serangkaian serangan ini menjadi salah satu gangguan paling signifikan terhadap penerbangan sipil di Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir. Ini juga tercatat sebagai serangan paling mematikan yang terjadi di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman juga melancarkan serangan terhadap beberapa bandara yang berada di bawah kendali Houthi, menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Ketegangan yang meningkat ini muncul di tengah pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung oleh Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh Arab Saudi. Situasi semakin memburuk setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengalami kegagalan. Gencatan senjata tersebut telah berlaku sejak tahun 2022 dan memberikan harapan untuk stabilitas di kawasan tersebut.

Dalam lima hari terakhir, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah menjadi target serangan sebanyak empat kali. Otoritas Arab Saudi melaporkan bahwa serangan yang terjadi pada 7 Oktober lalu mengakibatkan satu orang tewas dan delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan yang menyusul sehari kemudian menewaskan seorang pilot dan dua warga Arab Saudi, serta melukai beberapa orang lainnya.

Houthi juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd yang terletak di Dammam, sebuah kota pelabuhan industri yang berada di pesisir Teluk, pada hari Minggu yang sama.

Di sisi lain, Bandara Internasional Abha dilaporkan juga menjadi sasaran serangan yang terjadi pada 7 Oktober, yang menyebabkan dua orang tewas dan 28 lainnya mengalami luka-luka, menurut pernyataan dari otoritas penerbangan sipil Arab Saudi.

Pada hari yang sama, Bandara Najran juga mengalami serangan, dengan otoritas Arab Saudi melaporkan bahwa beberapa orang mengalami luka ringan akibat insiden tersebut.

Serangkaian serangan ini telah menyebabkan wilayah udara di atas Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menjadi sepi dari penerbangan. Otoritas setempat pun memperpanjang penghentian operasional di bandara internasional tersebut, yang merupakan bandara tersibuk kedua di Arab Saudi setelah Jeddah, untuk memastikan keselamatan penumpang dan staf.

➡️ Baca Juga: Reaksi The Jakmania Setelah Persija Menang 4-0 atas PSIM Jogja: Taktik STY Masih Dipertanyakan?

➡️ Baca Juga: Prabowo Umumkan Dividen BUMN 2025 Mencapai Rp 142,3 Triliun, Naik 67 Persen

Exit mobile version