AS Telah Menghabiskan Rp203 Triliun pada Pekan Ketiga Perang Iran

Amerika Serikat telah mengeluarkan dana sekitar 12 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp203 triliun, dalam upayanya melawan Iran sejak dimulainya serangan pertama pada 28 Februari lalu. Angka ini diungkapkan di tengah meningkatnya kekhawatiran domestik mengenai dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik yang semakin intens di Timur Tengah.
Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan data terbaru yang diterimanya pada Minggu, 15 Maret waktu setempat. Dalam wawancara dengan program Face the Nation di CBS, ia memberikan klarifikasi setelah sebelumnya ada kesan bahwa ia menyebut angka tersebut sebagai total biaya yang diperkirakan untuk perang secara keseluruhan.
Ketika ditanya mengenai angka lebih dari 5 miliar dolar, atau sekitar Rp84,5 triliun yang telah dihabiskan hanya untuk amunisi di minggu pertama perang, Hassett tidak memberikan tanggapan langsung.
Namun, ia berpendapat bahwa dampak konflik ini terhadap ekonomi Amerika Serikat tidak akan sebesar yang dikhawatirkan oleh masyarakat. Menurutnya, pasar keuangan yang memperdagangkan kontrak energi masa depan justru memperkirakan bahwa konflik ini akan segera mereda, yang berpotensi menurunkan harga energi secara signifikan. Pandangan ini bertentangan dengan kekhawatiran konsumen di AS yang sudah merasakan kenaikan harga bahan bakar di pom bensin.
Pasar global masih dipenuhi ketidakpastian setelah Iran mengancam akan mengganggu Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Hassett menilai bahwa jika terjadi gangguan terhadap jalur pelayaran di Teluk, negara-negara yang sangat tergantung pada minyak dari kawasan tersebut akan mengalami dampak yang jauh lebih besar dibandingkan Amerika Serikat.
“Ekonomi Amerika tidak akan dirugikan oleh tindakan Iran,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa situasi saat ini berbeda dengan krisis energi yang terjadi pada tahun 1970-an, karena saat ini Amerika Serikat merupakan salah satu produsen minyak utama di dunia.
“Kami memiliki cadangan minyak yang sangat besar,” ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan peringatan bahwa intensitas pemboman terhadap Iran diperkirakan akan meningkat secara signifikan, yang menandakan bahwa biaya perang kemungkinan akan terus bertambah.
➡️ Baca Juga: Rangkaian Pernikahan Al Ghazali Belum Usai, Masih Ada Unduh Mantu
➡️ Baca Juga: Kebijakan Berganti Tiap Menteri : Anak ‘Kelinci’ – Analisis Perubahan




