Kabar

MENJALIN PERSAUDARAAN LEWAT BEJAMU SAMAN

Sepanjang Festival Budaya Saman 2018 ada satu pesan yang disampaikan masyarakat Gayo Lues, terkhusus kaum lelaki: Saman lebih dari sekadar pertunjukan. Pada suatu malam, tepatnya hari Jumat, 23 November 2018, Mardiansyah yang seorang pemuda asli Gayo Lues mengutarakan pemaknaan masyarakat setempat terhadap Saman. Ia menyulut rokok di tangannya, mengisap sebentar, lalu mengembuskannya. Sejurus kemudian, Dian (sapaan Mardiansyah) bilang, “Saman itu tutur kata.”

Memperjelas maksud Dian, pada kesempatan lain Dede Pramayoza yang seorang peneliti Saman sekaligus kurator Festival Budaya Saman berkata, “Saman itu bukan hanya pertunjukan, tapi sebenarnya cara hidup, cara membangun hubungan dengan orang lain, cara mengatur kampung juga.”

Bayangkan dua pemuda Gayo Lues yang berbeda kampung dan belum saling kenal duduk berdua di suatu tempat. Salah satu dari mereka menaruh rokok dan koreknya di meja, yang lain lantas melakukan hal sama. Pemuda pertama mengambil rokok pemuda kedua, menyulut, dan mengisapnya, begitu pun sebaliknya. Dari sanalah, percakapan dua pemuda Gayo Lues bermula. Kedua pemuda berusaha saling mengenal satu sama lain, dan bila cocok kelak mereka dapat mengikat diri dalam relasi persaudaraan khas Gayo: serinen.

Kendati sudah saling merasa cocok, kedua pemuda itu belum benar-benar menjadi serinen. Usai perjumpaan itu, mereka kembali ke kampung masing-masing, untuk bicara dengan keluarga dan warga kampung masing-masing. Perihal yang dibicarakan adalah penyelenggaraan Bejamu Saman di kampung mereka secara bergantian. Kedua pemuda mengumpulkan personel Saman dari kampung masing-masing, dan berlatih sebelum tiba waktunya penyelenggaraan Bejamu Saman. Mereka berusaha menciptakan komposisi gerak yang unik dan punya tingkat kesulitan tinggi.

Bejamu Saman adalah format penyelenggaraan Saman yang mengadu penampilan dua kelompok Saman. Salah satu kelompok dipersilakan menampilkan Saman, kemudian kelompok yang lain berusaha menirunya, baik dari segi gerak maupun ritme. Pada giliran berikutnya, peran dibalik, kelompok yang semula berperan meniru gantian menampilkan Saman untuk ditiru kelompok lain. Dengan demikian, Bejamu Saman melatih kreativitas menciptakan komposisi gerak yang sulit ditiru, sekaligus di sisi lain melatih daya tangkap mempelajari komposisi gerak kelompok Saman lain dalam waktu relatif singkat.

Bejamu Saman mengesahkan ikatan serinen antarpemuda Gayo Lues. “Itu kenapa saya bilang Saman itu tutur kata. Peneliti Saman pasti merasakannya, dan mungkin punya istilah sendiri, tapi intinya Saman itu lebih dari tarian,” kata Dian. Ikatan persaudaran masyarakat Gayo Lues dijalin lewat Saman. []

Menu