Kabar

SAMAN MELAMPAUI TARIAN

Khalayak umum lazim menganggap Saman sebuah tarian, tepatnya tarian khas dari daerah Aceh. Khalayak juga masih sering salah paham, mengidentifikasi setiap tari duduk sebagai Saman. Misalnya, ketika pembukaan Asian Games 2018 menampilkan tari duduk yang dipertunjukkan oleh 1.600 siswi SMA se-Jakarta, pemirsa mengira tarian itu Saman. Padahal, sebenarnya itu tarian Ratoh Jaroe.

Saman dan Ratoh Jaroe mempunyai perbedaan mencolok. Penari Ratoh Jaroe biasanya berjumlah genap, sementara personel kelompok Saman berjumlah ganjil. Penari Ratoh Jaroe mengenakan songket, sedangkan pesaman mengenakan kerawang. Tari Ratoh Jaroe biasa dibawakan kaum perempuan, sementara Saman dibawakan kaum lelaki.

Sejak lahir dan dilestarikan turun-temurun oleh masyarakat Gayo, Saman memang hanya boleh dibawakan kaum lelaki. “Saman kan body percussion. Keras itu. Keras luar biasa. Lihat saja yang di kampung-kampung, makin cepat gerakannya, makin keras,” kata Dede Pramayoza, peneliti Saman, “itu kan yang dipukul dada, air susunya enggak ada itu nanti. Kan kasihan anaknya.” Itu jugalah alasan mengapa Saman tidak disertai iringan musik. Seluruh bebunyian Saman berasal dari anggota tubuh para pesaman, baik vokal maupun body percussion. Adapun Tari Ratoh Jaroe yang diidentikkan dengan Saman tak memakai body percussion, melainkan diiringi musik rebana.

Body percussion dalam Saman berisiko bagi kaum perempuan. “Secara tradisional enggak boleh perempuan menarikan Saman, perempuan itu tarinya ya Bines,” kata Dede. Tari Bines selalu dibawakan kaum perempuan dalam peristiwa Bejamu Saman. Merekalah yang menjadikan Bejamu Saman semarak. Tari Bines cenderung monoton dan tak serumit Saman. Penari bines mengenakan pakaian kerawang dan tajuk (bebungaan) di atas kepala mereka. Tajuk penari Bines biasa diperebutkan oleh kaum lelaki. Tajuk itu tak serta-merta boleh diambil, karena harus melalui tahapan dan aturan tertentu guna menjaga nama baik penari Bines dan keluarganya.

Tidak seperti Bines, Saman kurang tepat disebut tarian, kendati punya aspek gerak yang khas. “Saman enggak cocok disebut tari karena komponen ini enggak terpisahkan: sastra, aspek musikalnya, sama dance-nya, geraknya. Itu enggak bisa dipisahkan. Jadi, dia lebih tepat disebut apa? Ya, seni pertunjukan. Bukan tari, bukan musik, juga bukan sastra, tapi pertunjukan.”

Itu saja jika kita memandang Saman sebatas dalam konteks kesenian. Bagi masyarakat Gayo, makna Saman melampaui seni. Mardiansyah, pemuda asli Gayo Lues, menyatakan, “Saman itu tutur kata.”

Menu