Kabar

MELESTARIKAN MUSIK BAMBU

Bambu tumbuh subur dan banyak digunakan di Asia Tenggara, mulai dari dijadikan rumah, perabotan, alat komunikasi, sampai berbagai jenis alat musik. Di Indonesia musik bambu tersebar di berbagai daerah, baik jenis yang dipukul seperti gamelan bambu, diguncang seperti angklung, maupun jenis yang ditiup seperti suling.

Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut di Ambon, suling bambu diperkenalkan pertama kali oleh Joseph Kam, penginjil asal Belanda pada awal abad ke-16. Joseph Kam pandai bermain flute. Ketika dilihatnya bambu banyak tumbuh di Ambon, Kam membuat semacam flute atau suling dari bambu. Kam kemudian menggunakannya untuk mengantarkan lagu-lagu gereja.

Sampai 1980-an, suling bambu masih digunakan di gereja-gereja, bahkan setiap gereja memiliki ensambel musik bambu sendiri-sendiri. Akan tetapi, pada pertengahan 1990-an, alat musik tiup dari logam seperti terompet, trombon, dan saksofon mulai menggantikan suling bambu.

Pada pertengahan 2000-an musik bambu menemukan kembali panggungnya, bahkan berperan penting dalam harmoni masyarakat. Dalam sebuah orkestra musik, musik suling bambu yang dipraktikkan sebagai alat musik gerejawi dimainkan bersama musik sawat yang berasosiasi dengan budaya Islam di Maluku. Akan tetapi, popularitas musik bambu tidak lalu berkembang pesat. Karena itulah, Amboina International Bamboo Music Festival & Convention 2018 kembali berusaha mengangkat suling bambu.

Musik Bambu dalam Konvensi & Festival

Dalam konvensi yang dihadiri komunitas seni, pelajar, dan guru, para narasumber membahas musik bambu dari berbagai segi. Mulai dari perkembangan musik bambu di Asia Tenggara, cara menyelenggarakan pertunjukan musik yang baik, sampai pelestarian bambu sebagai bahan yang tahan lama dan terbarukan karena tumbuh lebih cepat daripada kayu.

Dalam festival musik, suling bambu dihadirkan dalam berbagai bentuk. Dari kolaborasi para maestro suling, karnaval, sampai acara puncaknya orkestra oleh Molluca Bamboo Wind Orchestra. Masyarakat Ambon bisa menyaksikan dan mengapresiasi keindahan bunyi suling bambu.

Konservasi Hutan Bambu

Hanya saja, ketika suling bambu kembali populer, kita perlu mengingat kelestarian sumber daya utamanya, yaitu bambu. Menurut Maynart R. N. Alfons, pendiri Molluca Bamboo Wind Orchestra, ada tiga jenis bambu di Ambon yang bisa dijadikan suling, yaitu bambu sero, bambu tui, dan bambu tapir. Ketiga bambu ini menimbulkan bunyi yang berbeda-beda. Bambu yang paling baik untuk dijadikan suling adalah jenis bambu tapir. Nada yang dihasilkannya tinggi, lembut, dan stabil. Akan tetapi, jenis bambu ini sudah jarang tumbuh. Hal ini dijawab dengan salah satu agenda hari terakhir Amboina International Bamboo Music Festival & Convention 2018, yaitu pelestarian hutan bambu di Tuni, Ambon.

Keterangan Foto: Menanam Bambu di Tunit. Foto oleh: Chiko Nussy

Menu