Kabar

HARMONI EMPAT MAESTRO SULING

Serupa tapi tak sama. Seperti itulah suling-suling bambu yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Serupa karena sama-sama terbuat dari bambu berlubang dan menimbulkan bunyi ketika ditiup. Tak sama karena bunyi yang dihasilkan memang tidak sama, kegunaannya pun berbeda-beda.

Amboina International Bamboo Music Convention & Festival 2018 diharapkan menjadi tempat kolaborasi para musisi nasional dan internasional. Salah satu kolaborasi yang tercipta adalah harmoni bunyi suling dari empat maestro suling Nusantara, harmoni empat suling bambu yang serupa tapi tak sama.

Empat Maestro Suling

Pada hari pertama Amboina International Bamboo Music Convention & Festival 2018 tanggal 15 November 2018, empat maestro suling tiba di Ambon untuk mengisi acara pembukaan festival malamnya. Mereka adalah Smiet Lalove dari Palu, Sulawesi Tengah, Puter Slayan dari Padang, Sumatra Barat, Dede Yanto dari Bandung, Jawa Barat, dan Marsius Sitohang dari Medan, Sumatra Utara.

Pertemuan pertama mereka saat latihan diawali oleh tanda tanya. Setiap maestro suling memiliki kekhasan masing-masing dengan fungsi yang berbeda-beda. Lalove yang dibawa dari Palu memiliki nada rendah, asing, dan memberi rasa magis. Di daerahnya musik lalove memang digunakan dalam upacara penyembuhan tradisional. Sebelum lalove ditiup, mantra-mantra dibacakan. Mantra tersebut boleh dibilang merupakan permohonan kepada Sang Pencipta untuk menghadirkan energi penyembuhan. Nada yang rendah dan asing itu mendekati nada pentatonis yang hanya terdiri dari lima nada pokok.

Ini berbeda dengan bunyi suling bambu yang dibawa Marsius dari Sumatra Selatan. Sulingnya menggunakan tangga nada diatonis yang lebih umum digunakan, yaitu terdiri dari tujuh nada pokok, do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Dengan begitu suling ini bisa mengiringi berbagai jenis lagu, dari lagu gereja sampai lagu pop.

Berbeda pula dengan suling dari Jawa Barat. Suling yang dibawa Dede Yanto mengiringi gamelan Sunda yang bernada dasar pentatonis. Akan tetapi, untuk mempermudah kolaborasi, Dede dan rekan-rekannya di Jawa Barat sudah membuat sistem nada dasarnya mendekati sistem nada diatonis. Sedangkan, musik saluang atau suling dari Minang, Sumatra Barat, bernada bass yang biasa dimainkan di malam hari. Dulu, alat musik ini digunakan oleh para pemuda untuk memanggil gadis yang disukainya.

Fungsi Pertunjukan

Dari berbagai fungsi dan sistem nada yang berbeda-beda ini keempat maestro berdiskusi untuk mengalihkan fungsi suling mereka pada satu fungsi, yaitu seni pertunjukan. Diskusi mereka tak lama. Mereka memainkan alat musik masing-masing dan menyepakati satu nada dasar. Mereka memulai dengan bermain bersama-sama, lalu masing-masing bermain solo, menunjukkan kekhasan masing-masing. Pertunjukan mereka ditutup dengan permainan bersama lagi.

Menariknya, ketika salah satu suling tak bisa mencapai nada tertentu, tiga suling lainnya akan mencari nada yang bisa dicapai suling tersebut. Suatu kerjasama dan kolaborasi yang menghasilkan harmoni indah pada malam pembukaan Amboina International Bamboo Music Convention & Festival 2018.

Keterangan Foto: Kolaborasi empat maestro suling Nusantara. Foto oleh: Chiko Nussy

.

Menu