Kabar

MENUJU AMBON KOTA MUSIK DUNIA

“Musik adalah DNA, denyut nadi, aliran darah. Bagi orang Ambon musik itu jiwa,” kata Meynard Reynold Nathanael Alfons atau yang akrab disapa Rence Alfons, dirigen Molucca Bamboowind Orchestra (MBO). Ia agaknya tidak sedang melebih-lebihkan. Naiklah sembarang angkot. Di situ musik diputar. Bila beruntung, Anda mungkin bisa mendengar orang bersenandung. Dengan merdu.

Tiga panel diskusi Amboina International Bamboo Music (AIBM) Convention yang berlangsung pada 15–17 November 2018 kurang lebih menarik simpul yang sama. Kultur musik sangat melekat dalam diri orang Ambon dan kota Ambon telah menghasilkan banyak musisi yang berkiprah di berbagai level. Dari lokal hingga internasional.

Dua hal tersebut, [1] kultur musik dan [2] musisi, merupakan modal kuat yang sudah dimiliki Ambon untuk menuju kota musik dunia. Masih ada tiga aspek lain yang perlu dikembangkan, yaitu: infrastruktur musik, institusi pendidikan musik, dan industri atau bisnis musik. Dengan begitu Ambon bisa menjadi kota musik atau kota yang mempunyai ekosistem musik yang berfungsi. Artinya, memberi dampak ekonomi, kebudayaan, politik, dan sosial terhadap kehidupan warga.

Pada Oktober 2016, Pemerintah Kota Ambon bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berencana mendaftarkan kota Ambon menjadi kota musik dunia pada 2019. Ambon bermaksud mengikuti jejak delapan kota di Asia Pasifik yang lain: Chennai dan Varanasi di India, Daegu dan Tongyeong di Korea Selatan, Hamamatsu di Jepang, Almaty di Kazakhstan, Auckland di Selandia Baru, serta Adelaide di Australia.

Bagaimana persiapan Ambon sejauh ini? Pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan tidak sedikit, demikian kesimpulan yang bisa ditarik dari perbincangan yang berlangsung selama AIBM Convention. Namun, satu hal yang menggembirakan adalah bahwa branding Ambon sebagai kota musik kian mengerucut. Ambon ingin menghidupkan kembali seruling bambu. Ambon ingin menawarkan musik yang membawa damai.

Molucca Bamboowind Orchestra

Terhitung sejak sekitar 2011 Kota Ambon punya orkes seruling yang bernama Molucca Bamboowind Orchestra (MBO0. Dikembangkan secara bertahap sejak 2005 oleh Rence Alfons dkk, MBO yang sewaktu dibentuk hanya terdiri dari 20 orang kini berkembang dan punya 100 anggota. Tidak berlebihan jika MBO menjadi kebanggaan dan salah satu pembuka jalan bagi Ambon untuk menjadi kota musik.

MBO mewadahi berbagai elemen masyarakat lintas generasi. Anggotanya berusia mulai dari 11 tahun hingga 70 tahun. Pekerjaan mereka beragam mulai dari pegawai bank, PNS, pelajar, pensiunan, tukang ojek, hingga pemeras enau. MBO juga merangkul baik pemusik gerejawi maupun islami. Dengan begitu kelompok orkes seruling ini merupakan perwujudan ideal Ambon yang ingin menghidupkan kembali seruling bambu dan mengalunkan musik pembawa damai.

Melengkapi Infrastruktur

Beberapa fasilitas pendukung aktivitas musik sedang dibangun di Kota Ambon. Yang sudah selesai dibangun pada tahun ini antara lain studio rekaman musik berstandar internasional di Universitas Pattimura dan gedung pertunjukan musik etnik di IAIN Ambon.

Pada 2019 direncanakan akan rampung dua pembangunan fasilitas lain. Pertama, pusat dokumentasi musik nasional berbasis digital. Kedua, konservatorium musik Ambon.

Apakah Ambon benar-benar siap mendaftar untuk menjadi kota musik dunia? Sangat menarik respons yang disampaikan oleh Rence Alfons, “Bagi saya pertanyaan yang lebih penting adalah: Kalau kita diakui lalu kita mau melakukan apa dan kalau kita belum diakui kita mau bagaimana…? Yang saya pikir paling penting sekarang adalah bagaimana agar Ambon kota musik benar-benar menjadi gerakan yang berkembang dan hidup di akar rumput. ”

Keterangan Foto: Salah satu peniup seruling MBO yang tampil pada acara puncak Amboina International Bamboo Music Festival di Lapangan Merdeka Kota Ambon, Sabtu, 17 November 2018. Foto oleh: Chiko Nussy.

Menu