Kabar

MENGINTIP JIWA ORANG AMBON DARI LIRIK

Bila mata adalah jendela jiwa, lirik lagu barangkali adalah cermin. “Lirik mempertontonkan ekspresi jiwa, menunjukkan identitas,” kata Hipolitus K Keuwel. Kini ia tengah mempersiapkan Ensiklopedi Lagu-lagu Ambon bersama Museum Musik Indonesia (MMI). Di samping memuat informasi dasar lagu yang antara lain meliputi lirik dan siapa penciptanya, ensiklopedi tersebut juga mendeskripsikan pesan yang dimuat suatu lagu dari kacamata antropologi.

Dalam diskusi panel Amboina International Bamboo Music (AIBM) Convention, Jumat, 16 November 2018, Hipolitus memaparkan temuannya atas sekitar 300 lagu Ambon koleksi MMI. Apa yang mengusik jiwa orang Ambon? Dosen Program Studi Antropologi FIB Universitas Brawijaya itu menemukan bahwa lagu-lagu Ambon umumnya mengangkat tiga tema besar. Tema cinta, tema rantau, lalu tema persaudaraan atau kekerabatan. Itulah yang mengisi jiwa orang Ambon.

Ia mencontohkan lagu “Hidup Orang Basudara” yang pernah dinyanyikan Franky Sahilatua: “Lagu ini bertema kentalnya kekerabatan... Dan lagu ini mengajak kita untuk melihat kedalaman kekerabatan di Ambon dalam keseharian hidupnya. Penggalan detik-detik persaudaraan meski singkat sungguh menggugah dan memberi gambaran mendalam tentang kekerabatan yang khas di Ambon itu. ‘Mayang pinang mayang kelapa | Timbang cengkeh di Saparua | Orang bilang ade deng kakak | Sagu salempeng makan bagi dua.’ Hidup bersaudara sungguh manis sekali.”

Secara khusus Hipolitus menyoroti tema persaudaraan yang kental pada lagu-lagu Ambon dalam kaitan dengan rencana Ambon menuju kota musik dunia. “Saya mendengar, dalam konteks kota musik dunia, Kota Ambon hendak mengangkat tema perdamaian. Maka, tema kekerabatan ini tidak boleh lepas. Harus dikembangkan… sehingga kalau omong tentang kekerabatan tentang perdamaian di tingkat dunia di Ambon-lah tempatnya.”

Kejujuran Orang Ambon

Bagi seorang antropolog, lirik lagu adalah catatan lapangan yang lengkap. Suatu lagu memberi gambaran yang mendetail atas suatu peristiwa yang terjadi di suatu tempat pada suatu saat. Dari pengalamannya meneliti lagu-lagu Ambon, Hipolitus K Keuwel bisa merasakan karakter khas yang melekat dalam diri orang Ambon. “Sangat jujur orang Ambon itu. Tidak pernah neko-neko. Apa adanya. Dalam lagu mereka tidak bikin cerita tapi dia ungkapkan siapa aku dan bagaimana pengalamanku,” katanya.

Kejujuran mengekspresikan diri dan suara hati ini tergambar juga dalam penampilan-penampilan para musisi yang naik ke atas panggung AIBM Festival. Dua hal tampak menonjol dan menarik. Pertama, tentang kegelisahan generasi muda atas identias kemalukuan. Misalnya, tergambar dalam lagu “Puritan”: “Apa itu Maluku? | Apa itu sagu? | Apa Nunusaku…?” Kedua, kritik sosial. Salah satu penampil membawa karangan bunga sederhana bertuliskan, “R.I.P. Politik Uang!”

Keterangan Foto: Sampul album kaset lagu-lagu Ambon lama. Foto dok. www.kasetlalu.com.

Menu