Kabar

LEBAK DAN KERBAU TAK TERPISAHKAN

Hari Minggu itu, (9/9/2018), iring-iringan kerbau lumpur (Bubalus bubalis carabauesis) yang dihias sebagaimana lazimnya acara karnaval, melenggang di sepanjang Jalan Multatuli, Rangkasbitung. Tampak pula kerbau albino atau biasa dijuluki kerbau bule. Penonton berkerumun di kiri-kanan jalan. Karnaval Kerbau itu mengawali rangkaian acara hari terakhir Festival Seni Multatuli 2018, yang berlangsung 6-9 September 2018.

Pagi-pagi, para pengangon kerbau sudah siap dengan pakaian serba-hitam, berselempang kain bermotif batik Lebak dan mengenakan udeng, ikat kepala khas masyarakat adat Baduy. Semua pengangon dan kerbau berasal dari Kecamatan Cikulur, Lebak.

Salah seorang pengangon ada yang mendampingi kerbaunya sembari memainkan suling. Beberapa kerbau bahkan boleh dinaiki anak kecil, mengingatkan kita pada kerbau Saijah yang dirampas pemerintah kolonial dalam kisah Saijah dan Adinda.

Dikisahkan, usia Saijah baru saja sembilan tahun ketika ketika pemerintah kolonial merampas kerbau pertama milik ayahnya. Kesedihan Saijah pun dimulai. Karena tanpa kerbau keluarga Saijah tak mungkin mengolah tanah, maka sang ayah menjual keris pusaka peninggalan orangtuanya. Dibelinya kembali seekor kerbau.

Ketika Saijah berusia 12 tahun, kerbau itu kembali dirampas oleh pemerintah. Ayah Saijah dan istrinya merasa terpukul. Mereka sudah tak punya lagi cukup uang untuk membeli kerbau. Dengan terpaksa, dijuallah sepasang kelambu ke kota. Saijah yang masih sedih karena kehilangan kerbau sahabatnya, pelan-pelan mulai ceria dan kembali bersahabat dengan kerbau ketiga yang dimilikinya. Namun persahabatan itu, lagi-lagi, tak bertahan lama. Kerbau ketiga yang dimilikinya kembali dirampas pemerintah.

Tak kuat menanggung derita, ibu Saijah meninggal dunia. Semua warisan sudah dijual. Derita belum cukup. Ayah Saijah kemudian dibunuh oleh tentara kolonial. Saijah, anak kecil berusia 13 tahun itu, pun menjadi sebatang kara. Ia melanjutkan hidup dengan situasi yang serba kekurangan.

Kerbau-kerbau yang terlibat dalam karnaval pemiliknya berbeda-beda. Dalam karnaval itu, setiap kerbau dikawal oleh dua orang pengangon serta seorang penjagal, untuk mengantisipasi amukan kerbau. Pada dasarnya, kerbau hidup berkelompok dan membentuk koloni sosial. Kerbau cenderung sulit akur dengan kerbau-kerbau di luar koloninya. Maka mempertemukan kerbau-kerbau berbeda pemilik dalam satu karnaval sebenarnya berisiko. Tapi Karnaval Kerbau dapat berjalan lancar.

Ternak Unggulan

Kerbau lumpur adalah jenis yang lazim diternakkan di Banten dan Jawa. Selain kerbau lumpur, jenis kerbau lainnya di Indonesia adalah kerbau sungai yang terdapat di Sumatra Utara. Beberapa kerbau yang ditampilkan dalam Karnaval Kerbau adalah kerbau yang pernah memenangi Kontes Ternak Kerbau, yang diselenggarakan Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Di Banten, kerbau memang jadi ternak unggulan. Provinsi ini kini menduduki 5 besar dengan populasi kerbau tertinggi se-Indonesia. Selain sebagai ternak unggulan di Banten, Karnaval Kerbau digelar untuk mengingatkan masyarakat Lebak kepada sejarahnya. Kerbau punya peran besar di masyarakat agraris Lebak. Petani membajak sawah menggunakan kerbau. Anak-anak Lebak dulu pun akrab dengan kerbau.

“Saya menonton karnaval buat mengingat masa kecil, dulu sering naik kerbau,” kata salah seorang penonton karnaval. Kini, teknologi pertanian sudah semakin modern. Bajak sawah kini digantikan traktor. Kerbau praktis sekadar untuk dikonsumsi, terutama di hari Idul Adha.

Harga kerbau sendiri relatif lebih murah ketimbang sapi. Catatan Dinas peternakan Banten, pada September 2018, harga rata-rata kerbau di Lebak Rp19 juta untuk betina dan 18,5 juta rupiah untuk jantan.

Karena tak lagi menjadi alat produksi pertanian, populasi kerbau di Lebak merosot. Data Badan Pusat Statistik 2010, populasi kerbau tercatat 43.730 ekor, tersebar di 28 kecamatan. Turun menjadi 33.350 ekor pada 2018. Maka Karnaval Kerbau, salah satu mata acara dalam Festival Seni Multatuli, memiliki arti penting bagi usaha peternakan di Kabupaten Lebak.

Kabupaten ini telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan kerbau oleh Provinsi Banten sejak 2014. Bahkan pada November 2017 lalu, Lebak meraih juara umum Kontes Ternak Kerbau yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Untuk meningkatkan kembali populasi kerbau di Lebak, telah dilakukan sejumlah upaya. Salah satunya mendirikan Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak Ruminansia dan Hijauan Pakan Ternak. Salah satu fungsinya melakukan inseminasi buatan terhadap kerbau. Di tempat ini terdapat 54 induk dengan satu pejantan dan sudah menghasilkan 25 anak kerbau.

Upaya lain ialah melarang memotong ternak betina produktif sebagaimana diatur dalam UU No. 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Juga memprakarsai asuransi ternak kerbau yang mati akibat penyakit atau hilang dicuri.

Menu