Kabar

PELUKIS PERLU BACA SEJARAH

Banten pernah melahirkan dua maestro lukis Indonesia. Mereka adalah kakak beradik Raden Agoes Djajasoeminta dan Otto Djajasuntara. Agoes lahir di Pandeglang pada 1913, sedangkan Otto di Rangkasbitung pada 1916. Keduanya seangkatan dengan pelukis Sudjojono dan tergabung dalam Persatoean Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada 1937.

Saat itu Agoes menjabat Ketua Persagi, Sudjojono Sekretaris, sedangkan Otto belum dapat dipastikan keanggotaannya di kelompok seniman tersebut. Namun begitu, orang lebih mengenal nama Sudjojono sebagai pelukis. Bahkan di kampung halamannya sendiri, nama Agoes dan Otto Djaja terasa asing.

Pengamat seni Aminuddin TH Siregar mengatakan, wajar Djaja bersaudara kurang dikenal di kampungnya sendiri, sebab seniman di Indonesia hidup dengan pola urbanisasi. Demikian salah satu kesimpulan Diskusi Seni Rupa Historia bertajuk “Djaja Bersaudara: Hidup dan Karya”, Festival Seni Multatuli, Kamis (6/9/2018), di Pendopo Kabupaten Lebak, Banten.

Pola tersebut mengharuskan seniman yang lahir di desa merantau ke kota-kota besar agar karyanya dapat berkembang, mendapat pengakuan, dan meraih penghidupan lebih layak. Sampai sekarang, menurut Ucok, panggilan akrab Aminuddin, cara pandang seni pusat dan pinggiran itu masih ada.

“Setiap daerah saya kira punya sinonim untuk kata seni atau seniman. Sungging, misalnya. Legenda Jepara mengenai Sungging Prabangkara menceritakan terbentuknya akar seniman di Indonesia hingga keterlibatannya dalam lingkaran kekuasaan. Kisah Sungging penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Akan tetapi, bagi seniman modern Persagi, sejarah Sungging tidak penting-penting amat,” ucap Ucok.

Berjarak dengan Sejarah

Ironisnya, ujar Ucok lebih jauh, para seniman muda ogah belajar sejarah dan tradisi. Jika pun ada, mereka berkarya sebatas karena proyek. “Syukur-syukur jika kuratornya melek sejarah dan mendorong senimannya berkarya ke sana. Kalau tidak ada permintaan tematik, belum tentu mereka berkarya dari sejarah. Saya ragu seniman kita suka ke museum.”

Menurut Ucok, seniman yang menaruh minat pada sejarah masih sangat minim. Jarang seniman mau menelusuri candi. Padahal, relief pada candi menyimpan sejarah yang luar biasa. Seolah ada jarak yang amat jauh dengan masa lalu. Padahal jika mau mengunjungi museum dan berkaca pada sejarah, karya seniman Indonesia bisa lebih bermakna. Minimal menawarkan pandangan ke depan.

Kendati demikian Ucok mengakui, sejumlah seniman muda mulai menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi. Seniman Titarubi di Yogyakarta, misalnya, membuat riset sejarah rempah yang mendalam dan menjadi suatu karya yang menakjubkan. Ada pula FX Harsono, walau usianya tak lagi muda, menawarkan kedalaman berkarya dengan menggali sejarah pembantaian etnis Tionghoa di Indonesia antara 1947-1949.

Menurut Ucok, historical painting sangat penting. Salah satu fungsinya adalah menawarkan cara pandang baru bagi masa depan. Ia mengambil contoh Museum Multatuli di Lebak, Rangkasbitung, yang jadi kampung halaman Otto dan Agus Djaja. “Kalau saya ke Museum Multatuli, bisa saja saya mereka ulang adegan dari satu teks, entah itu isu penindasannya, perbudakannya, atau perjuangan Havelaar menentang kesewenangan bangsanya sendiri.”

Belajar sejarah tentu saja tidak harus ke museum atau ke candi. Para seniman dapat membaca dari buku-buku sejarah. Sayang, kata Ucok, minat membaca seniman di Indonesia terbilang rendah. “Dengan berat hati harus kita akui, seniman Indonesia tidak suka membaca. Survei pribadi saya, mereka merasa baca buku itu terlalu berat.”

Seniman seolah hanya membuat lukisan yang laku dijual. Mengadakan pameran tunggal maupun kolaborasi. Ujung-ujungnya, seniman berkarya demi memenuhi selera pasar. Celakanya lagi, mutu kritikus seni rupa di Indonesia kedodoran.

Kritikus, menurut Ucok, sering lupa bahwa pasar tidak bisa menjadi ukuran. Kritikus seharusnya fokus saja menilai mutu suatu karya. Karena sang kritikus kesulitan membedah sebuah karya, tidak punya argumen yang kuat terhadap karya, lagi-lagi ia melempar kesalahan pada selera pasar yang cacat. Maka, guna meningkatkan kualitas karya seniman Indonesia, Ucok mengusulkan para seniman rajin mengikuti diskusi-diskusi yang menarik dengan pembicara yang punya bobot.

Menu