Kabar

SIMPOSIUM: LEBAK DAN NARASI ANTIKOLONIALISME

Lebak beruntung memiliki sejarah yang berkelindan dengan narasi antikolonialisme. Narasi itu muncul dari seorang Belanda, Eduard Douwes Dekker, yang ketika menjadi asisten residen di Lebak menyaksikan praktik kolonialisme dan menentangnya. Sikapnya kemudian ditunjukkan dalam novel yang ia tulis, Max Havelaar (1860).

Narasi antikolonialisme adalah aset Lebak yang menjadikan kabupaten ini penting dalam historiografi dan kebudayaan Indonesia. Merespons kekayaan aset narasi Lebak itu, Festival Seni Multatuli 2018 menyelenggarakan simposium bertema Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin. Simposium menghadirkan pembicara dari berbagai disiplin ilmu: sastra, sejarah, studi budaya, dan feminisme.

Para pembicara yang hadir adalah Katrin Bandel, Neng Dara Affiah, Bondan Kanumoyoso, Sri Margana, F. Rahardi, dan Seno Gumira Ajidarma. Simposium berlangsung dua hari, Jumat-Sabtu, 7-8 September 2018.

Pada hari pertama, tampil dua perempuan yang sama-sama meminati studi feminisme, Katrin Bandel dan Neng Dara Affiah menjadi pembicara di simposium sesi pertama. Katrin menyebut Max Havelaar memicu kontroversi bukan saja karena bergagasan antikolonial, tapi juga karena tulisannya lebih pantas disebut gugatan. Berbeda dengan Katrin yang menyorot dengan perspektif pascakolonial, Neng Dara lebih menyoal kepemimpinan perempuan di Lebak dalam perspektif feminisme. Menurut dia, perempuan punya pilihan dan kapasitas untuk memimpin.

Ia mencontohkan, di Banten ada Maria Ulfah Santoso, perempuan pertama yang pernah menjabat menteri di Indonesia, pada masa Kabinet Sjahrir II. Di masa modern, ada Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, Bupati Pandeglang Irna Narulita, dan Bupati Serang Tatu Chasanah. Meskipun memang kepemimpinan perempuan di Indonesia masih berakar feodalisme. Para perempuan yang menduduki posisi tinggi masih muncul dari keluarga priyayi dan punya pengaruh di kawasannya.

Memahami Akar Sejarah

Pada hari kedua, tampil dua sejarawan, Bondan Kanumoyoso dan Sri Margana. Bondan secara khusus menyorot konteks sejarah novel Max Havelaar. Kendati berupa karya fiksi, Max Havelaar sebetulnya dilandaskan pada peristiwa sejarah yang betul-betul terjadi, seperti tanam paksa. Ia menambahkan, tanam paksa, atau secara umum kolonialisme, bisa berlangsung lantaran ada andil feodalisme lokal. Menurut Margana, “Memahami kolonialisme juga harus dari akar-akar dan kelompok-kelompok yang memberi celah bagi tumbuh dan berkembangnya kolonialisme itu sendiri. Bagaimana sifat-sifat politik lokal yang rawan intervensi dan juga sikap-sikap kolaboratif elite lokal yang menjadikan sifat-sifat kolonialisme itu lebih eksploitatif dari seharusnya.”

Tampil pula di hari kedua, F. Rahardi, yang menganggap kolonialisme masih terjadi hingga kini. Sebagaimana kolonialisme di masa silam, kolonialisme mutakhir juga disokong oleh elit-elit lokal. Karena itu, Rahardi merasa ada Saidjah-Adinda versi milenial, yang semestinya melawan segala macam penindasan terhadap diri dan masyarakatnya.

Pembicara terakhir di hari kedua, Seno Gumira Ajidarma, memberikan kejutan. Seno memilih sudut pandang yang unik dan berbeda. Sementara pembahas lain masih menilai Multatuli pahlawan yang menyuarakan antikolonialisme lewat Max Havelaar, Seno justru mengajak hadirin mempertanyakan motif penulisan novel tersebut.

Seno mengajak hadirin mempertanyakan kondisi mental-psikologis Multatuli. Sudut pandang Seno tidak baru memang, sebab ia mendasarkan perspektifnya pada sekian penelitian dan teks-teks tentang Multatuli, yang sebagian besar belum familiar dibaca di Indonesia. Menurutnya, meskipun novel Max Havelaar dianggap karya yang menghancurkan kolonialisme oleh Pramoedya Ananta Toer, kita tetap harus bijak dalam membaca karya-karya.

Menu