Kabar

MENJAGA ADAT LELUHUR LEWAT TARI

Salah satu mata acara dalam perhelatan Festival Seni Multatuli (FSM) pada 6-9 September 2019 adalah pentas tari tradisional. Dalam pembukaan “Simposium Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin” yang berlangsung di Aula Multatuli, Rangkasbitung, Jumat (7/9/2018), siswa-siswi SMK Mulya Hati Insani (MHI) Warung Gunung, Banten, mementaskan tari Mangatua, tarian masyarakat adat Baduy.

Mangatua, yang berarti tua, menyimbolkan keberadaan roh nenek moyang. Melalui tari Mangatua, leluhur masyarakat adat Baduy seolah hendak berpesan agar anak-cucu menjaga adat istiadat. “Larangan teu meunang ditempak, buyut teu meunang dirobah.” Demikian ujaran masyarakat adat Baduy. Artinya, masyarakat adat dilarang melanggar tradisi. Jika ada yang melanggar, roh mangatua akan menghukum si pelanggar.

Maka hadirin terpukau dengan atmosfer pertunjukan, ketika seorang penari bersimpuh seperti meratap. Sementara di belakangnya, empat penari mengangkat satu tangan mereka ke atas dan satu tangan lagi di dada seperti memegang perisai, menatap gahar ke arah penari yang bersimpuh. Gerakan ini menggambarkan seseorang sedang dihukum karena melanggar adat.

Dalam tarian Mangatua terkandung berbagai unsur kesenian lain. Misalnya rengkong. Nama rengkong diambil dari nama alat yang dahulu digunakan untuk memikul beras. Rengkong terbuat dari bambu jenis gombong yang banyak ditemukan di Jawa Barat.

Bambu sepanjang sekitar dua meter dikaitkan dengan tali injuk yang diikatkan dengan sepikulan padi. Bambu akan menghasilkan suara yang unik akibat gesekan tali injuk dengan bambu yang berguncang-guncang ketika dipikul. Jika rengkong dimainkan ramai-ramai, akan muncul kemeriahan yang harmonis.

Selain rengkong, unsur lain dalam tari Mangatua adalah silat. Hal itu diperlihatkan ketika lima penari membentuk berbagai formasi mengikuti alunan musik rengkong. Mereka memeragakan rangkaian gerak silat yang energik, seperti gerak silat bandrong, terumbu, cimande, dan pamacan. Gerakan-gerakan tersebut dibuat dengan pesan agar generasi muda tegas membela dan mempertahankan adat istiadat Banten.

Para penari pria mengenakan ikat kepala Sunda atau totopong, kemeja koko tanpa lengan warna keemasan, sabuk, dan dodot motif tapak kebo. Para penari wanita mengenakan kebaya Sunda, apok atau longtorso, rok dengan motif tapak kebo baduy yang diikat sabuk, gelang tangan, dan sampur.

“Alunan suara rengkong dalam tari Mangatua menjadi pengingat agar manusia menjaga keseimbangan alam. Manusia harus sadar bahwa alam bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak-cucu kita yang akan datang,” ujar Rika Amelia, pelatih grup tari SMK MHI Warung Gunung.

Lebih jauh Rika Amelia menjelaskan, unsur gerak yang mendominasi tari Mangatua sebenarnya sederhana, karena didasarkan pada gerak keseharian. “Banten bukanlah daerah penghasil gaya tari.”

SMK Mulya Hati Insani Warung Gunung pernah menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2018. Dalam pertunjukan tari Managatua itu, musik digarap oleh Parwa Rahayu, koreografer Acut Silanangjagat, pengarah artistik Koko Arifin Pandeglang, dan penulis naskah Abdoel Majid serta Endang Suhendar. Sementara Rika Amelia, seorang guru seni, bertindak sebagai penata rias dan kostum.

Menu