Kabar

JALAN PANJANG ANAK MUDA MINANG MENGENAL SILEK

Maya (18) dan Viyola (17) meringis menahan sakit. Tampak telapak kaki mereka melepuh. Keduanya berjingkat mencari kursi, usai menunjukkan kebolehannya basilek di atas matras. Ternyata matras berwarna biru itu panasnya bukan main. Mereka segera berlari ke tempat teduh usai memperagakan silek sungai patai di halaman Rumah Gadang Aminuzal Amin Datuk Rajo Batuah dalam acara Maestro Talk (11/11/2018).

Sambil menunggu perih di telapak kakinya mereda, Maya menceritakan sedikit pengalamannya belajar silek. Selain untuk bela diri, ia mengaku tertarik dengan silek karena sudah menjadi tradisi keluarganya. Karena itulah ia belajar di perguruan Sungai Patai.

Salah satu pengalamannya adalah mengikuti kompetisi di Bukittinggi. Ia juga bercerita bahwa ia pernah mengalami cedera. “Terbentur benda di atas matras. Terus muntah. Gara-gara itu sempat dilarang latihan. Tapi untungnya sekarang sudah dibolehin,” ujarnya.

Pengalaman Maya itu menunjukkan perjalanan yang tak mudah dalam mendalami silek. Namun penampilan Maya, Viyola, dan pesilek muda lainnya jelas merupakan secercah harapan, mengingat minat terhadap silek dikatakan sedang menurun.

Bukan Sekadar Bela Diri

Saat para pesilek muda tampil, tuo-tuo silek, para pendekar silek, menonton di sekelilingnya. Dalam perhelatan Maestro Talk ini, bagian utama acara memang pituah-pituah (petuah) dari para tuo silek.

Dalam petuahnya, para tuo silek berkali-kali menekankan bahwa silek bukan hanya bela diri, apalagi seni pertunjukan. Gerakan bela diri hanyalah satu hal. Hal lain yang lebih penting adalah memahami apa yang ada di balik gerakan itu. “Filosofi silek bukanlah power, melainkan penyatuan diri,” ucap Irwan, pelaksana Maestro Talk yang juga tetua Nagari Pariangan.

Istilah “penyatuan diri” tentunya bukan istilah yang mudah dicerna oleh anak muda. Istilah ini terkait erat dengan nilai-nilai agama dan ketuhanan. Kaitan penyatuan diri dan nilai agama itu, salah satunya, tampak dari apa yang dikatakan Disman, maestro dari Sungai Patai, "Kalau kita tinjau dari hulunya, silek ini asalnya dari orang-orang yang ahli agama dan orang-orang yang tahu tentang ilmu tasawuf."

Mendengar kata “tasawuf”, sebagian orang mungkin akan mengerutkan dahi. Tasawuf dan sufisme, paling tidak dalam perbincangan sehari-hari, masih memiliki pro dan kontra. Namun, terlepas dari pro kontra tersebut, tasawuf merupakan olah spiritual yang hakikatnya lebih dari sekadar gerakan fisik.

Dalam tataran itu, apa yang tekah dipelajari Maya dengan susah payah itu seakan baru seujung kuku. Jalannya pun terasa masih jauh, mengingat makna silek yang “sebenarnya” sangat mendalam. Sebaliknya, dari sisi guru, mengajarkan silek yang “mendalam” itu juga sama sulitnya.

Sekarang, latihan silek tidak dilakukan seintim dulu. Waktu untuk memberikan pengajaran hal-hal spiritual mungkin nyaris tidak ada. Para tuo silek mengatakan setiap latihan ada puluhan hingga ratusan murid. Waktu latihan pun hanya sekitar dua jam. Apalagi sasaran atau tempat berlatih silek bukan lagi di surau.

“Beda dengan dulu. Dulu itu rumah sempit, jadi anak muda yang sudah remaja itu tidurnya di surau. Mereka malu kalau tidur sama keluarganya. Di surau itulah mereka mengaji dan belajar silat, serta dibekali dengan filsafatnya,” ucap Buya Zulhari, tuo silek dari Solok.

Ada kesan, dalam sistem pengajaran yang dulu, interaksi murid dan guru lebih dekat. Atau menurut istilah Buya Zulhari, rasa berguru itu sangat kuat. Guru-guru sangat mengenal sisi personal tiap murid, bukan hanya tahu dari formulir-formulir pendaftaran saja.

Kini, mengingat metode pembelajaran macam itu sudah tidak ada, kian terjal jalan anak muda untuk mengenal silek. Saat berbincang, Maya mengatakan bahwa silek berguna bagi dirinya untuk melawan saat diganggu orang. Nantinya, ia berharap dapat menguasai silek versi para tuo, lebih dari sekadar menghindari gangguan orang.

Menu