Kabar

PRAKTIK SASTRA LISAN DALAM SILEK

Bagi masyarakat Minang, silek bukan hanya soal olah fisik. Berlatih silek melibatkan empat unsur budaya, yaitu mental spiritual, seni, bela diri, dan olahraga. Hasilnya pun tak hanya berupa jurus untuk membela diri, melainkan juga sastra lisan yang dibahas dalam Silek Arts Festival 2018 melalui Seminar Sastra Lisan Minangkabau.

Salah satu kurator Silek Arts Festival 2018, Sudarmoko menjelaskan, seminar ini diselenggarakan untuk meningkatkan perhatian masyarakat umum akan sastra lisan. Dengan diadakannya seminar bertajuk “Silek sebagai Sumber Sastra Lisan” ini, ia berharap dapat meningkatkan minat dan apresiasi masyarakat terhadap sastra lisan Minangkabau terutama yang bersumber dari silek. Bentuk sastra lisan yang bersumber dari silek sendiri beragam. Ketua Seminar Sastra Lisan Minangkabau, Eka Meigali menjelaskan salah satunya berupa gerakan silek. “Sastra lisan tidak melulu dalam bentuk tuturan kata. Sastra lisan bisa pula berupa olah tubuh seperti (gerakan) silek,” jelasnya dalam pembukaan seminar, Kamis (4/10).

Hal itu misalnya bisa dilihat pada praktik Silek Ulu Ambek. Dalam sebuah kesempatan, Direktur Festival Silek Arts Festival 2018, Indra Yudha pernah menjelaskan, praktik silek ini tidak melibatkan kontak fisik, tetapi dengan mengikuti irama musik dan alunan syair yang menjadi pengiring silek. Selain dalam gerak, Silek Ulu Ambek pun mempraktikkan sastra lisan dengan mantra-mantra yang diucap para pelakunya dalam hati.

Masyarakat Minang juga mengenal sastra lisan melalui silek kato atau bersilat kata. Di Minang, kemampuan orang dalam bersilat kerap dinilai dari seberapa pandai mereka basilek kato. Indra Yudha sempat menjelaskan bahwa seorang anak baru akan diuji kemampuannya sebagai pesilat di lapau atau warung ketika berinteraksi dengan ‘lawan’-nya. “Di situlah tempat ‘pertarungan’ tadi. Beradu silek yang bukan hanya adu fisik tapi juga silek kato. Bagaimana dia mengeluarkan gagasannya dan mencari titik temu,” jelas Indra.

Wakil Rektor Institut Seni Padang, Ediwar, dalam sesi seminar tersebut menjelaskan silek kato memerlukan keterampilan bermain kato atau kata. Untuk itu diperlukan kepandaian, keterampilan, serta kepiawaian dalam mengungkapkan pikirannya. Itulah mengapa menurut Ediwar kemampuan silek kato penting untuk dipelajari oleh generasi muda masyarakat Minang.

“Terdapat banyak nilai yang dapat kita ambil dari silek kato ini, di antaranya ialah nilai kebudayaan, nilai agama, serta nilai etika, estetika, dan logika yang berhubungan dengan permasalahan sosial,” katanya.

Seminar Sastra Lisan Minangkabau berlangsung dalam dua sesi yaitu “Sastra Lisan dan Ruang Lingkup Kajiannya” dan “Silat sebagai Sumber Kajian Sastra Lisan”. Selain Ediwar turut hadir sebagai pembicara Rektor Institut Kesenian Jakarta, Dr. Seno Gumira Ajidarma; Pramono, Ph.D dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas; Dr. Gres Grasia dari Asosiasi Tradisi Lisan Universitas Negeri Jakarta; Dr. Khairil Anwar, M.Si. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas; Dr. Hasanuddin, M.Si. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas; Musra Dahrizal Katik Jo Mangkuto selaku budayawan; dan seniman sekaligus budayawan asal Yogyakarta, Whani Darmawan.

Seminar ini diselenggarakan di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan merupakan salah satu program Silek Arts Festival 2018 dalam platform kebudayaan Indonesiana. Silek Arts Festival 2018 berlangsung sepanjang September hingga 30 November mendatang. Pada 11 November nanti akan diselenggarakan Maestro Talk atau Pituah Nan Tuo di Pariangan, Tanah Datar.

Menu