Kabar

FESTIVAL BUDAYA SAMAN LANGKAH AWAL MENUJU SAMAN CENTER DI GAYO

Kita tentu masih ingat dengan pembukaan Asian Games 2018 yang spektakuler. Salah satunya karena penampilan tarian duduk berderet oleh ribuan perempuan yang memukau. Publik lantas ramai menyatakan kekaguman mereka atas penampilan Tari Saman dalam pembukaan perhelatan olahraga terbesar di Asia itu. Namun, baru diketahui setelahnya bahwa tarian itu bukanlah Tari Saman dari Gayo Lues, melainkan Tari Ratoh Jaroe.

Kesalahpahaman mengenai Tari Saman memang kerap terjadi di masyarakat. “Penonton tidak mengerti. Tarian berderet dianggap Saman. Laki, perempuan dianggap sama,” kata Pakar Pertunjukan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, Dr. Sal Murgiyanto, pada seminar pembuka Festival Budaya Saman 2018, Selasa (2/10).

Lebih lanjut, Sal menjelaskan pemahaman yang keliru mengenai Tari Saman bisa menimbulkan konsekuensi yang kurang menguntungkan bagi penonton maupun pelakunya. Padahal, tari saman sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh UNESCO sejak 24 November 2011.

Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru, kemudian menyatakan sejak Saman disahkan menjadi WBTB, masyarakat Gayo Lues terus melakukan upaya-upaya untuk memperkenalkan Tari Saman ke masyarakat umum dan melestarikannya. Salah satunya dengan mencanangkan pembangunan Saman Center.

Pembangunan Saman Center diharapkan tidak sekadar menjadi pusat praktik tari, tetapi juga pusat pengembangan kemampuan manajemen, peningkatan kualitas pertunjukan, serta pemajuan penelitian akademis tentang Saman. Selain tentu saja dapat membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat saman di Gayo Lues.

“Saya harap Saman Center juga bisa memberikan beasiswa untuk anak Gayo ke perguruan tinggi di Jawa lalu pulang dan perbaiki dari dalam. Ubah yang perlu tanpa meninggalkan tradisi yang ada,” kata Sal dalam seminar bertajuk “Saman dalam Spektrum Pengetahuan” tersebut.

Sal juga menjelaskan hal itu menjadi penting agar para pelaku Saman tidak menjadi victim of progress atau melakukan pengembangan-pengembangan dengan tanpa sadar semakin meninggalkan akar budayanya. Misalnya dengan mendorong saman sebagai pertunjukan semata, bukan lagi sebagai sebuah bentuk kebudayaan dengan serangkaian nilai dan tradisinya.

Dengan diakui oleh UNESCO, Saman tak hanya jadi milik masyarakat Gayo, tetapi juga milik Aceh, Indonesia, bahkan dunia. Untuk itu, penting bagi para pelaku Saman dan masyarakat Gayo untuk terus melestarikan tarian ini. Selain dengan terus mempertunjukkannya, juga dengan melakukan kajian-kajian serta mengenalkan tradisi-tradisi Saman dengan lebih mendalam. Langkah awalnya adalah melalui Festival Budaya Saman 2018 yang berlangsung pada 2 Oktober – 24 November mendatang di Gayo Lues. Dalam festival ini, Saman tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sebagai objek kajian dan diskusi ilmiah dalam forum seminar dan juga lokakarya.

Menu