Kabar

MEREKA YANG PEDULI

Dalam pelestarian kebudayaan, persoalan regenerasi hampir selalu menjadi masalah utama. Yang muda, tak lagi tertarik pada tradisi dan warisan budaya yang dianggap kolot. Tak terkecuali pada komunitas silek di Sumatra Barat. Silek yang tumbuh dalam sistem masyarakat Minang kemudian menjadi sesuatu yang taken for granted, diterima begitu saja tanpa dipertanyakan dan dilihat kembali makna tradisionalnya.

Biasanya hal yang kita terima begitu saja kerap membuat kita lupa. Maka, perlu usaha untuk terus menggali tradisi-tradisi tersebut supaya ia terus mengakar. Untuk itu, sekelompok pemuda Minang berinisiatif untuk membuat suatu komunitas untuk menggali kembali nilai-nilai silek guna melestarikan dan mengembangkannya. Kelompok itu bernama Silek Retreat. Nama “Retreat” dipilih untuk mengajak para anggotanya mundur sejenak guna melihat kembali tradisi silek dan kaitannya dengan kebudayaan Minang.

Komunitas ini bermula dari program Minangkabau Silek Summer Camp yang diinisiasi salah satu tokoh silek di Minang, Edwardo Guci pada 2013-2014. Program itu dibuat Edwardo untuk menjadi ajang pembelajaran silek bagi orang-orang luar yang ingin belajar Silek. “Jadi bukan guru-guru silek yang terus dipanggil ke Inggris atau ke mana-mana, tapi mereka belajar silek ya harus menjadi Minang dan mengenal budayanya seperti apa,” kata Asro Suardi, tim litbang Silek Retreat.

Dari sanalah kemudian muncul Silek Retreat dalam bentuk festival Minangkabau Silek Retreat pada 2017. Festival ini merupakan ajang silaturahmi pelaku dan menjadi fasilitator para pelaku silek dari luar negeri untuk mempelajari tradisi silek dan budaya minang dalam bentuk lokakarya.

Setelah festival tersebut, Silek retreat terus menyelenggarakan program-program guna memperkenalkan kembali tradisi silek. Mulai dari menggalakan gerakan #BanggaBagalembong hingga melakukan usaha konservasi terhadap senjata-senjata tradisi macam kerambit. Di sisi lain, Silek Retreat juga melakukan pengemasan ulang terhadap silek dengan menginisiasi silek lanyah (silek lumpur) di Desa Kubu Gadang untuk memancing minat generasi muda mengenal silek.

“Jadi kita kembali ke nilai-nilai tradisi tapi kita juga terbuka terhadap perkembangan. Kami berusaha untuk mengiringi perkembangan tanpa melupakan dasar-dasar,” jelas Asro.

Lebih lanjut, Asro menjelaskan Silek Retreat juga menjadi lembaga kajian yang berusaha untuk memetakan elemen-elemen budaya yang menyokong silek serta permasalahannya untuk kemudian dikembangkan.

Melembagakan Sasaran

Salah satu hal yang dinilai menjadi masalah dalam pelestarian silek adalah tata kelola manajeman pelatihan dan seni pertunjukan silek. Hal ini disampaikan oleh Direktur Festival Silek Arts Festival 2018, Indra Yudha. Menurut Indra, pengelolaan sasaran yang lebih terlembaga dapat menarik perhatian pemuda terhadap silek tradisi.

Untuk itu, Silek Retreat juga bergerak untuk menumbuhkan kesadaran para pelaku silek dalam melembagakan sasaran. Asro menjelaskan, kesadaran tersebut biasanya tumbuh di kalangan pemuda. Misalnya di Solok Selatan di mana ada 20 sasaran yang sudah terlembaga dalam satu manajemen.

Pengelolaan serupa juga dilakukan oleh para pelaku silek di Pauh. Di Pauh, tradisi pengelolaan sasaran silek memang lebih terstruktur ketimbang pengelolaan silek tradisi pada umumnya. Ketua Kelompok Seni Tradisi Adat Minangkabau Palito Nyalo, Dasrul menjelaskan struktur adat di Pauh beberapa sasaran tergabung dalam satu tapian atau lembaga pendidikan yang dipimpin oleh seorang dubalang.

“Silek pauh ini sistem pelatihannya memang jadi seperti akademi polisi karena sejarahnya silek pauh ini digunakan sebagai pertahanan di perbatasan-perbatasan Minangkabau,” jelas Dasrul. Sekarang ada 15 sasaran tersebar di 5 tapian, di mana satu tapian rata-rata terdiri dari 40 orang.

Namun, tentu saja, mengenai pengelolaan manajemen pelatihan silek masih memunculkan perdebatan. Pengelolaan sasaran yang terlembaga dalam struktur yang birokratis dinilai pelaku silek tradisi dapat mereduksi silek menjadi sekadar olah fisik. Diskusi-diskusi semacam inilah yang coba diwadahi dalam Silek Arts Festival 2018.

Keterangan foto: Silek tuo Bukittinggi yang sudah dikemas sebagai seni pertunjukan.

Menu