Kabar

HILMAR FARID: REVITALISASI BUDAYA BUKAN SOAL MENJAGA YANG ASLI

Bicara mengenai pelestarian budaya, kita kerap terjebak dalam wacana keaslian suatu kebudayaan. Dari mana asalnya? Seperti apa tradisinya? Kebudayaan dan tradisi itu lalu dibentengi demi tradisi itu sendiri. Hal itu membuat tradisi dan kebudayaan menjadi rigid. Padahal, kebudayaan memiliki sifat yang cair.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI, Hilmar Farid. Menurutnya, revitalisasi kebudayaan bukan soal mencari yang paling asli dan menjaganya tetap demikian. Melainkan, soal mencari koneksi dan resonansi suatu kebudayaan di satu daerah dan daerah lain untuk kemudian dikomunikasikan dan dikembangkan bersama.

“Sebab saya yakin nilai yang mereka pegang juga merupakan hasil interaksi dari masa lalu. Jadi, bukan harus puritan karena kita enggak tahulah yang paling asli itu kayak gimana. Mau di-track bagaimana?” jelas Hilmar setelah acara pembukaan Silek Arts Festival, pada 7 September 2018.

Yang terpenting, Hilmar menegaskan, adalah bagaimana menjaga nilai dasar dari kebudayaan tersebut dalam pengembangannya. Inilah yang lalu menjadi tugas para pemegang kepentingan terhadap kebudayaan yang bersangkutan seperti akademisi, pemerintah daerah, budayawan, komunitas, hingga masyarakat lokal.

Semangat revitalisasi itu yang dibawa dalam Silek Arts Festival 2018. Silek pada prinsipnya adalah sebuah ilmu bela diri yang dipandang sebagai bekal dan bukan untuk dipertunjukkan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, silek kini juga dikemas dalam sebuah bentuk pertunjukan yang menarik penonton.

Bagi sebagian orang, hal ini tidak lantas mereduksi nilai-nilai tradisi silek. Justru, tradisi silek yang dikemas dalam bentuk pertunjukan dianggap bisa menjadi pancingan untuk menarik perhatian generasi muda terhadap warisan budaya Minang tersebut. Itulah yang dilakukan oleh komunitas pegiat silek, Silek Retreat. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan menjadikan silek lanyah (silat lumpur) sebagai ikon wisata Desa Kubu Gadang.

Anggota tim riset Silek Retreat, Asro Suardi, menjelaskan apa yang mereka lakukan bukan menjadikan silek sebagai objek wisata yang eksotis. Sebab, menurutnya kemunculan silek lanyah yang diinisiasi Mevi Rosdian tersebut juga menjadi pembaharuan tersendiri bagi tradisi silek dan mendorong aksi-aksi serupa di desa-desa lain. Selain menciptakan daya tarik wisata, atraksi semacam ini juga dapat menarik perhatian generasi muda untuk mengenal silek dengan lebih dalam.

Selain membuat atraksi silek, komunitas ini juga membuat program untuk mengenalkan kembali filosofi silek dan Minangkabau kepada para pesertanya. Program-program tersebut biasanya dalam bentuk lokakarya pengenalan bahasa Minang dan penyelamatan senjata tradisi seperti kerambit yang pembuatnya kian jarang di Minang. “Jadi kami mengiringi perkembangan tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar,” kata Asro.

Menjadi Warisan Budaya Dunia

Nilai-nilai dasar yang dimaksud ialah nilai-nilai silaturahmi, integritas, dan kegigihan yang membentuk karakter seseorang yang mempelajari silek. Hilmar menyebutnya sebagai outstanding universal value atau nilai yang penting bagi umat manusia. Inilah yang membuat silek kemudian diajukan Indonesia untuk menjadi warisan budaya dunia tak benda ke UNESCO.

Hilmar menjelaskan, dengan pengajuan ini, Indonesia tidak sedang menegaskan silek sebagai hanya miliknya. “Jangan keliru, ini bukan pengakuan UNESCO bahwa ini milik Indonesia atau ini milik Indonesia, tapi apakah silek akan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia yang berarti ini milik umat manusia,” jelas Hilmar. Baru kemudian di dalam narasinya akan diceritakan dari mana silek berasal.

Selain memiliki outstanding universal value, silek diajukan sebagai warisan budaya dunia juga karena ia memiliki perangkat kebudayaan yang kompleks. Mulai dari institusi penyokongnya seperti sasaran dan surau hingga produk budaya turunannya seperti tari piriang dan tari randai.

Dalam proses pengajuan satuan budaya sebagai warisan budaya dunia, pemerintah bersama dengan para ahlis seperti akademisi, budayawan, dan komunitas melakukan proses kristalisasi kebudayaan. “Kita menyebutnya dengan kristalisasi, crème de la crème kebudayaan kita mana sih yang paling cocok,” kata Hilmar. Yang jelas, Hilmar menegaskan, ketika suatu kebudayaan sudah diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya, dengan sendirinya kita memiliki tanggung jawab untuk memelihara itu.

Menu