Kabar

DI BALIK OPERA SAIJAH DAN ADINDA

Pianis Ananda Sukarlan memilih opera untuk menggambarkan tragisnya kisah cinta Saijah dan Adinda karena jenis pertunjukan ini dianggap paling pas. Apalagi latar belakang Ananda adalah pianis musik klasik.

Semua bermula ketika Ananda dihubungi salah seorang kurator Festival Seni Multatuli, Bonnie Triyana, untuk ikut terlibat dalam festival. Mengingat waktu persiapan mepet, durasi opera hanya dipatok 30-40 menit. Idealnya, kata Ananda, durasi sebuah opera 1,5 jam. Bahkan untuk durasi sepanjang 30-40 menit, dibutuhkan latihan 5-6 bulan. Sementara dia mulai menggarap musiknya mulai bulan Juli. Praktis hanya tiga bulan. Skrip belum ada.

Beruntung, sebagai orang yang haus membaca, Ananda ingat betul adegan-adegan dalam kisah Saijah dan Adinda. “Saya dulu kuliah di Belanda. Jadi baca Multatuli dan suka. Dalam bahasa Belanda saya baca.”

Lebih beruntung lagi, dia punya kawan-kawan yang terbiasa berkolaborasi. Terakhir, mereka bekerjasama dalam opera Clara. Sebuah opera dengan latar tragedi kemanusiaan Mei 1998. “Kolaborator kenal saya. Itu memudahkan proses belajar. Paling penting juga, mereka sudah tahu musik saya, sehingga cepat dapat kolaborasinya,” ujar Ananda.

Dia menambahkan, “Mereka sedikit-banyak sudah tahu Max Havelaar, tapi saya perlu ceritakan lagi. Mereka juga mengunduh roman itu dalam e-book, karena roman ini sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa. Termasuk bahasa Estonia. Pemain cello, Vahur Luthsalu, asal Estonia. Mereka bilang, kisah cintanya lebih dramatis daripada Romeo dan Juliet. Memang, kisah Romeo dan Juliet adalah cinta monyet, tiga hari ketemu langsung nikah lalu bunuh diri. Cinta pertama dianggap paling suci. Tapi ini Saijah dan Adinda punya pijakan yang lebih realistis. Cinta mereka memang cinta pertama, tapi mereka sempat berpisah selama tiga tahun. Mereka bersumpah setia untuk ketemu lagi, tapi tak bisa saling memiliki.”

Dengan durasi hanya 30-40 menit, mau tak mau Ananda mesti berdiskusi serius dengan sutradara dan koreografernya, Chendra Panatan, agar pertunjukan terasa utuh. Atas nasihat Chendra, adegan dibikin flashback.

Rencananya, durasi panjang opera Saijah dan Adinda dalam 10 babak akan digelar tahun 2020, bertepatan dengan 200 tahun Multatuli. Anggota lain yang terlibat dalam opera Saijah dan Adinda adalah Widhawan Aryo sebagai Saijah, Mariska Setiawan sebagai Adinda, dan Carmen Caballero asal Spanyol untuk flute.

Kreasi Baru Timur-Barat

Sebagai orang yang mencintai sejarah, opera ciptaan Ananda umumnya memang berlatar sejarah. Dia juga mencintai budaya. Karena itulah Ananda melibatkan kesenian Beluk Saman asal Banten dalam opera Saijah dan Adinda. Beluk adalah cengkok nyanyian dengan nada melengking, biasanya dipadu dengan tarian Saman, sehingga disebut Beluk Saman. Penyanyi Beluk yang ditampilkan adalah Parwa Rahayu asal Kecamatan Banjarsari, Lebak.

“Saya mau kolaborasi ini dikenal sampai mancanegara. Orang sini, kan, menganggap kesenian macam Beluk sebagai kampungan. Tapi ingat, justru itu ciri khas kita yang harus digaungkan. Beberapa tarian dan nyanyian sudah mendunia, tetapi budaya lokal lain belum terekspose. Pada akhirnya, musik itu bahasa universal. Ini mempertemukan budaya Timur dan Barat tanpa cut and paste, bukan hanya tempelan-tempelan,” kata Ananda.

“Saya tidak mau kita hanya jadi ‘pembeli’ saja. Kekayaan kita bisa diproses sendiri dengan standar internasional. Jika dikembangkan, saya yakin budaya kita bisa mendunia. Sebenarnya, Wayang Wong itu mirip opera. Ada tari, nyanyi, dan pemeranan. Sayangnya, lakon yang dimainkan masih dari Mahabarata dan Ramayana. Menurut saya, Wayang Wong bisa mengeksplorasi kemungkinan tema-tema baru, termasuk sejarah,” tambah Ananda.

Mempertemukan Timur dan Barat tanpa terasa cut and paste menjadi tantangan tersendiri bagi Ananda. Kolaborasi yang baik, bagi Ananda, adalah bila muncul suatu kreasi baru. “Bahasa bisa beda, tetapi musik dapat membawa penonton hanyut dalam suasana yang universal. Musik berkomunikasi dengan tingkat yang lebih subtil. Musik saya akan tetap berasa Indonesia dengan romantisme Barat. Adegan Saijah kecil dengan bapaknya itu sangat Sunda. Maka akan ada elemen Sunda dalam musik saya.”

Tentu menarik bila opera Saijah dan Adinda bisa dimainkan di kota-kota lain, meski hanya dalam tiga babak.

Menu