Kabar

BAPAK SARENG IBU, IEU OPERA SAIJAH DAN ADINDA

Sore itu, Sabtu, 8 September 2018, air hujan seperti dimuntahkan dari langit. Kota Rangkasbitung pun basah. Entah kenapa, dalam dua hari itu hujan mengguyur ibukota Kabupaten Lebak tersebut. Tidak seperti biasanya, panas dan kering.

Di lokasi berlangsungnya opera Saijah dan Adinda, di sisi kanan Museum Multatuli, tentu hati Bonnie Triyana, salah seorang kurator Festival Seni Multatuli, penggagas utama opera, sedang dagdigdug. Jika hujan terus mengucur hingga pukul 19:30, biarpun cuma gerimis, opera bakal ditunda hingga hujan benar-benar reda.

Betapa tidak. Tempat berlangsungnya opera bukanlah sebuah opera house, melainkan panggung terbuka tanpa atap. Daun-daun pohon besar yang ada di samping panggung menaunginya. Jangankan hujan, tiupan angin yang tak terlalu kencang saja akan mengganggu akustik. Beruntung, hujan reda pukul 18:30. Bonnie pun bernapas lega. Kiranya itu berkat keampuhan pawang hujan yang telah disiapkan oleh Bonnie.

Akibat hujan, pertunjukan molor sejam dari rencana. Panitia perlu mengepel dulu lantai panggung yang basah. Para pemain juga perlu mengecek ulang peralatan musiknya. Namun para penonton yang memadati arena acara tampak sabar menunggu opera.

Jangan bayangkan ini pertunjukan di mana penoton duduk tertib di bangku-bangku. Hanya ada kursi plastik yang biasa dipakai dalam hajatan kampung. Sebagian berdiri, sebagian duduk lesehan. Mereka pada berseliweran, anak-anak berlarian ribut.

Pedagang asongan rokok, tukang tahu, kopi saset, air botolan, bahkan pedagang balon, tampak menawarkan dagangannya. Suasana seperti pasar malam. Sementara di hadapan mereka, berdiri panggung pertunjukan dengan tata lampu dan artistik yang ciamik, dengan patung Multatuli, Saijah, dan Adinda bikinan Dolorosa Sinaga. Suasana agraris dan modern seolah lebur begitu saja, mengalir begitu saja.

Ubaidillah, Kepala Museum Multatuli, meminta penonton untuk tidak menumpuk di depan panggung, sebab akan dilewati para pemain dan kerbau yang menjadi properti opera. Kemudian mengajak pengangon kerbau, Abah Bahrudin untuk naik ke panggung memperkenalkan kerbaunya yang bernama Onik.

Waktu berjalan. Opera tiga babak Saijah dan Adinda segera dimulai. Sebelum pertunjukan utama, Ananda Sukarlan, pianis jempolan yang menulis naskah dan komposisi opera memainkan sejumlah ciptaannya. Salah satunya “The Angry Birds’ Holiday in Bali”. Ini salah satu theme song games Anggry Birds. Komposisi ini diciptakan oleh Ananda bekerjasama dengan perusahaan asal Finlandia pencipta games tersebut, Rovio Entertainment. Ketika denting piano Ananda mengalun lincah, penonton gembira. “Ih lucuu....,” komentar seorang gadis belasan tahun. Selanjutnya Ananda memainkan gubahannya atas lagu “Tanah Airku” dan “Naik Delman” ciptaan Ibu Sud, “Narcissus Dying”, dan “Rescuing Ariadne”.

Pertunjukan utama pun siap dimulai. Seolah tahu bahwa penonton tidak terbiasa menonton opera, Ananda merasa perlu menyampaikan sedikit penjelasan tentang apa itu opera. “Maka, Bapak-Ibu, jika nanti ada adegan Adinda yang mati tertusuk, tapi kok malah bernyanyi, jangan ditertawakan. Itu memang tradisi opera,” ujarnya.

Sihir Kesedihan

Suasana langsung senyap ketika babak pertama opera dimulai. Penonton seolah tersihir kesedihan yang menyayat ketika suara Parwa Rahayu, pemain Beluk Saman asal Banten, melengking meruntuhkan kegembiraan hadirin.

Lengkingan suara Parwa itu mengiringi rombongan pemain yang berperan sebagai pengantar jenazah Adinda yang terbunuh dalam perlawanan terhadap penguasa kolonial. Mereka berjalan beriringan menuju panggung, diikuti kerbau dan pengagonnya, simbol kisah Saijah dan Adinda.

Dikisahkan, keluarga Adinda pindah ke Lampung setelah kerbau milik ayahnya dirampas pemerintah. Saijah kemudian menyusul Adinda. Dengan perahu kecil dia berlayar ke sana. Kala itu pecah perang. Pribumi melawan pemerintah kolonial yang semakin semena-mena. Di Lampung itulah Saijah menemukan kekasihnya terbunuh.

Adegan kemudian flashback ke masa kecil Saijah yang bahagia bersama ayahnya. Lantas ayah Saijah ditangkap dan disiksa Belanda hingga mati. Adegan-adegan itu diracik dengan baik oleh sutradara dan koreografer opera, Chendra Panatan. Musik Ananda memperkuat ketegangan.

Opera masuk ke babak kedua, percintaan Saijah dan Adinda. Seperti dikisahkan, semasa kecil, Saijah dan Adinda sering bermain bersama dengan kerbau masing-masing. Setelah Saijah menjadi sebatang kara akibat sang ayah dibunuh Belanda dan ibunya tak tahan menanggung derita, dia memutuskan mencari peruntungan di Batavia. Dia mendapat kabar di Batavia ada pekerjaan kuli untuk anak seusianya.

Saijah berjanji akan kembali setelah tiga tahun di Batavia. Di bawah pohon ketapang Adinda berjanji akan setia menanti Saijah. Beberapa pucuk melati diberikan Adinda kepada Saijah sebagai pengobat rindu kala mereka berpisah. Di bawah pohon ketapang itu pula, Adinda menyaksikan Saijah pelan-pelan menghilang menuju Batavia. Adegan ini mengharukan. Tampak sejumlah perempuan mengusap air matanya.

Pada babak terakhir, dimulai dengan adegan Adinda yang mati mengenaskan. Busananya koyak-moyak, dengan bekas-bekas tusukan di tubunya yang membiru kaku. Ketika adegan ini berlangsung, terdengar cuitan burung malam dari atas pohon di samping panggung, menambah suasana dramatis. Sungguh dramatis. Cuitan burung itu, seolah mengabarkan kepada Saijah bahwa Adinda telah mati. Ya, seperti dikisahkan dalam roman, Saijah akhirnya bertemu Adinda, tapi bukan di bawah pohon ketapang tempat mereka dulu mengikat janji.

Saijah pun meradang. Tapi perlawanannya sia-sia. Ia akhirnya menyusul sang kekasih ke alam baka. Perang dan jahatnya kolonial telah memorak-porandakan semua impian sepasang anak manusia, Saijah dan Adinda….

Menu