Kabar

MAAF, INI EDUARD DOUWES DEKKER

Penyelenggaraan Festival Seni Multatuli patut diacungi jempol. Dengan tema sentral sejarah sebagai narasi, festival ini mampu melahirkan respons-respons kreatif. Semua itu bisa dilihat dari rangkaian acara festival sepanjang 6-9 September 2018, yang dikemas agar pas dengan anak muda. Lebih daripada itu, pemerintah daerah sangat mendukung dan komunitas-komunitas di Lebak terlibat dengan penuh antusias.

“Sejarah itu serius, tinggal bagaimana kita mengemasnya jadi asyik,” kata Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya. Itu disampaikan pada pembukaan Festival Seni Multatuli, Kamis, (6/9/2018), di Museum Multatuli.

Satu mata acara festival yang patut diapresiasi adalah undangan kepada generasi Indonesia umur 20-40 tahun untuk menulis puisi bertema Multatuli. Inilah generasi yang lahir setelah Reformasi 1998 dan generasi yang masa kanak-kanak dan remajanya melewati kekuasaan Orde Baru.

Undangan disebarkan melalui poster, media sosial, dan media massa. Gayung pun bersambut hangat. Sebanyak 283 penyair mengirimkan 920 puisi. Dari jumlah tersebut, tim kurator yang dipimpin penyair Isbedy Stiawan ZS, memilih 203 judul puisi dari 142 penyair, yang kemudian dibukukan dalam antologi puisi dengan judul Kepada Toean Dekker. Upaya pembukuan ini sebagai dokumentasi memori kolektif generasi muda Indonesia atas Multatuli.

Peluncuran antologi puisi itu juga dikemas dengan menggandeng anak muda di Lebak. Mereka diminta untuk memusikalisasikan sejumlah puisi terpilih. Maka, malam itu, 6 September 2018, di Pendopo Kabupaten Lebak terdengar ketukan gamelan oleh dua siswi berkerudung biru dan berkebaya putih menggema.

Di belakang mereka, empat pemuda berbagi peran. Dua orang bermain gitar, mengapit seorang pemetik bass dan pengetuk cajon. Keempatnya mengenakan baju adat Sunda warna hitam dan ikat kepala warna biru. Mereka adalah pelajar SMAN 3 Rangkasbitung.

Dengan pelan mengalunlah nyanyian dari puisi “Mengenang Janji Adinda” karya Athif Thithah Amithuhu. “Adindaku/ Dari masa lalu, kenangan datang mencumbu/ Merengek manja/ Membusung dada/ Aku rindu mendekap....” Tak ketinggalan, Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi, turut membacakan puisi. Ia membacakan puisi berjudul “Lebak” karya Aldy Istanzia Wiguna.

Muncul Kerancuan

Undangan menulis puisi itu menjadi menarik karena sejumlah penyair merancukan Multatuli alias Eduard Douwes Dekker dengan Ernest François Eugène Douwes Dekker. Kita tahu, Eduard memang memiliki saudara bernama Jan, kakek tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker, yang dikenal dengan Danudirja Setiabudi.

Eduard Douwes Dekker lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820. Meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887. Dia bukan pahlawan nasional. Sementara Ernest Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Hindia Belanda, 8 Oktober 1879. Meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950. Dia adalah pahlawan nasional Indonesia.

Kerancuan atas dua Dekker tersebut memperkuat arti penting festival. Banyak kalangan menilai bahwa anak muda Indonesia sudah teramat jauh dari sejarah bangsanya sendiri. Padahal, sejarah, ujar Bonnie Triayawan, salah seorang kurator festival dalam wawancara, lebih dari sekadar urutan nama dan peristiwa. Sejarah punya konteks. Dengan konteks itulah kita diajak berpikir kritis. Kesadaran ini pula yang mendasari lahirnya Museum Multatuli.

“Menghilangkan konteks dalam sejarah akan membuat pikiran kita cupet. Dalam pikiran cupet itu, kita tidak sadar atas sesuatu yang sedang terjadi di hadapan kita. Ambil misal sikap feodalisme dan primordialisme yang hari-hari ini menguasa dunia politik kita,” tambah Bonnie.

Sumber Inspirasi

Sastra karya Multatuli, Max Havelaar, memang telah menjadi klasik. Ia menginspirasi banyak seniman untuk meresponsnya. Salah satunya penyair dan dramawan WS Rendra lewat kumpulan puisi Orang-orang Rangkasbitung.

Menurut sastrawan Ahda Imran, yang dihubungi lewat telepon, sajak Rendra, “Kesaksian Bapak Saijah” merupakan contoh menarik dari kerja interteks seorang penyair. Memasuki novel itu, Rendra menemukan banyak segi dalam gagasan kesadarannya tentang penindasan yang mendera rakyat. Sumber ekonomi yang dirampas penguasa atau kuasa kekerasan yang menyertai politik ekonomi kapitalisme. “Dengan hal itu, di tangan Rendra, Max Havelaar sebagai teks mengalami perluasan konteks kesadaran. Bahwa penindasan di masa Tanam Paksa itu tak pernah beranjak kemana pun. Watak para penguasa penindas masih ada di tengah rakyat, baik sebagai mental birokrasi ataupun seperti yang terlihat dalam politik kapitalisme negara-negara maju. Terlebih lagi di tahun-tahun awal 1990-an, itu banyak terjadi peristiwa penggusuran.”

Mari kita petik “Kesaksian Bapak Saijah”.

Ketika mereka bacok leherku,

dan parang menghunjam ke tubuhku

berulang kali,

kemudian mereka rampas kerbauku,

aku agak heran

bahwa tubuhku mengucurkan darah.

Sebetulnya sebelum mereka bunuh

sudah lama aku mati.

Hidup tanpa pilihan

menjadi rakyat Sang Adipati

bagaikan hidup tanpa kesadaran,

sebab kesadaran dianggap tantangan kekuasaan.

Lebih jauh Ahda mengatakan, Rendra memberi suara pada mereka yang tertindas. Suara yang mendedahkan gagasan ihwal perlawanan. Sebab ketakutan hanya menyuburkan ketidakadilan sebagaimana disuarakan oleh kesaksian Bapak Saijah. Sebagai penyair, ia menemukan konteks yang tak beranjak dari apa yang mengemuka dalam Max Havelaar.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh cerpenis Iksaka Banu, sastrawan yang banyak terisnpirasi sejarah di masa Hindia-Belanda. “Puisi-puisi dalam Orang-orang Rangkasbitung membuktikan bahwa Rendra adalah penyair, sekaligus periset yang rajin dan cermat. Situasi politik dan sosial semasa Rendra hidup sebagai penyair telah membuatnya identik dengan ‘protes’ atau ‘perlawanan’ lewat puisi. Dengan mahir ia bisa menitipkan keras-lembutnya kadar protes itu lewat berbagai gaya tanpa mengubah isi pesan."

Keterangan foto: Pelajar SMAN 3 Rangkasbitung memusikalisasikan sejumlah puisi terpilih dalam antologi puisi dengan judul Kepada Toen Dekker, yang diluncurkan 6 September 2018 di Pendopo Kabupaten Lebak.

Menu