Kabar

MENGGALI KEMBALI AKAR TRADISI SILEK

Silek atau dikenal awam dengan sebutan pencak silat adalah satu dari banyak kebudayaan Indonesia yang berdiaspora ke berbagai penjuru dunia. Silek sudah dipertandingkan di kejuaraan-kejuaraan tingkat internasional. Sudah pula diturunkan menjadi berbagai seni pertunjukan kontemporer seperti tari randai. Silek Arts Festival merupakan satu upaya untuk memperkuat akar tradisi silek dan menegaskannya sebagai identitas budaya masyarakat Minang.

Sumatera Barat merupakan rumah dari begitu banyak aliran silek tradisi. Tidak hanya sebagai seni bela diri, silek juga sudah menurunkan berbagai produk kebudayaan seperti tari randai yang mengambil bagian ‘mancak’ atau ‘bungo silek’ yaitu gerakan pemanis silek.

Silek memang inti dari banyak kebudayaan di Minangkabau. Direktur Festival Silek Arts Festival 2018, Indra Yudha bahkan mengatakan silek adalah awal peradaban Minang. Sebabnya, Indra menjelaskan, tradisi silek mencakup empat unsur budaya yaitu mental spiritual, seni, bela diri, dan olahraga. Itulah mengapa menurutnya silek tak hanya sekadar pergerakan fisik, tapi juga melatih spiritualitas dan pikiran.

Indra menjelaskan silek merupakan bagian dari sistem masyarakat di ranah Minang. Ia dimulai dari rumah gadang, surau, sasaran atau sasana, hingga lapau atau warung-warung tempat bergaul. Budaya silek tumbuh dari rumah gadang ketika mamak-nya mengajarkan ada istiadat dan cara berkerabat. “Sebab bagi orang Minang silek itu bentuk silaturahmi,” kata Indra.

Dari rumah, anak-anak lalu dikirim ke surau untuk melatih mental spiritual mereka sebelum akhirnya berlatih gerakan-gerakan silek di sasaran (tempat berlatih silek) berupa halaman surau. Baru setelah itu mereka mempraktikan sileknya di lapau. “Di situlah tempat ‘pertarungan’ tadi. Beradu silek yang bukan hanya adu fisik tapi juga silek kato. Bagaimana dia mengeluarkan gagasannya dan mencari titik temu,” jelas Indra.

Proses internalisasi budaya silek yang menyeluruh ini membuat Indra menyebut silek sebagai “Pakaiannya Orang Minang”. Prinsip-prinsip budaya silek terus dibawa dan melekat anak-anak Minang hingga ke perantauannya.

Sayang, akar tradisi silek yang bersahaja tersebut kini tak banyak menarik perhatian anak-anak muda. Indra menjelaskan salah satu sebabnya ialah tata kelola manajemen pertunjukan dan manajemen pelatihan silek tradisi yang masih belum terlembagakan dengan maksimal.

Untuk itu, Indra mengatakan, Silek Arts Festival merupakan salah satu upaya untuk menggali kembali akar budaya silek tradisional di ranah Minang. Sekaligus langkah awal untuk membenahi tata kelola tadi. Dengan menggali kembali akar budaya silek, Indra percaya hal itu juga akan mendorong perkembangan kebudayaan-kebudayaan Minang lain yang merupakan produk dari silek tradisional.

Festival ini juga menjadi medium untuk mendorong pengajuan silek sebagai salah satu warisan budaya tak benda dari Indonesia dan menegaskan silek sebagai identitas budaya masyarakat Minang dan Indonesia. Itulah mengapa Silek Arts Festival 2018 tidak hanya menyajikan aksi-aksi silek, tetapi juga program-program lain yang dapat menggali akar tradisi silek dari berbagai sisi.

Beberapa program tersebut antara lain pertunjukan dan workshop sastra lisan Minang, pameran, maestro talk, penerbitan karya sastra, dan lain-lain. Dalam festival ini juga para pendekar tuo akan memanggil murid-murid mereka dari berbagai penjuru dunia untuk ikut terlibat guna mengingatkan kembali generasi muda Minangkabau akan warisan budaya miliknya.

Rangkaian acara Silek Arts Festival 2018 diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di delapan kabupaten/kota di Sumatera Barat yaitu Padang Panjang, Padang Pariaman, Payakumbuh, Sawahlunto, Solok, Tanah Datar, Bukittingi. Festival ini akan dibuka pada 7 September di Kota Padang dan ditutup di Bukittinggi pada 30 November 2018.

Menu