Kabar

ANAK LEBAK YANG MENOLAK MENYERAH

Museum Multatuli semakin ramai dikunjungi. Namun, apa yang bisa dibawa pulang selain ingatan masa silam? Tak jauh dari Museum Multatuli, berdiri Imah Batik Sahate, toko yang menjual oleh-oleh berupa batik khas Lebak.

Toko ini didirikan oleh Muhammad Yusuf, anak muda kelahiran Lebak 38 tahun lalu, demi mengangkat kota yang dicintainya. Semua bermula pada tahun 2017, ketika dia gagal menjadi pengusaha penggergajian. Lulusan SMK Rangkasbitung Jurusan Manajemen Bisnis ini, bersama sejumlah pengrajin Lebak lain, dikirim ke Yogyakarta untuk belajar membatik selama sepekan.

Di kota batik tersebut, mereka belajar dasar-dasar membatik. Sekembalinya ke Lebak, mereka difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak untuk membuka usaha batik cap.

Motif batik yang diproduksi Imah Batik Sahate adalah kreasi baru yang sudah dipatenkan pada 2016. Terdapat 12 motif batik, yakni caruluk saruntuy, seren taun, leuit si jimat, gula sakojor, rangkasbitung, angklung buhun, kalimaya, sawarna, pare sapocong, sadulur, kahirupan baduy, dan lebak bertauhid.

Selain mendaftarkan hak paten dan memfasilitasi produksi dengan menyumbang alat cap batik, Pemkab Lebak mengeluarkan peraturan untuk mengenakan seragam bermotif batik Lebak bagi instansi pemerintah. Motif caruluk saruntuy, misalnya, digunakan oleh pegawai negeri sipil setiap haris Kamis. Demikian pula dengan seragam anak-anak sekolah dengan motif lebak bertauhid.

Peraturan tersebut menjadikan Imah Batik Sahate kebanjiran order, sehingga roda bisnis mulai berputar lumayan cepat. “Kami menyediakan motif, nanti customer yang memilih. Biasanya mereka tidak mau sama,” ungkap Yusuf.

Tidak Ongkang-ongkang

Order dari berbagai dinas tersebut tidak lantas menjadikan Yusuf ongkang-ongkang kaki. Dia justru terpacu untuk mengembangkan usahanya. Pelan tapi pasti, batik Lebak mulai diminati khalayak umum.

Saat ini, Imah Batik Sahate mempekerjakan empat orang. Semua laki-laki, mengingat produksi batik cap lebih membutuhkan tenaga daripada batik tulis. “Kalau untuk batik cap, bagusnya laki-laki. Kalau batik tulis, kebanyakan perempuan. Sebab mereka lebih telaten,” Yusuf menjelaskan. Imah Batik Sahate belum memproduksi batik tulis karena terbentur sumber daya manusia. Lebih daripada itu, harga batik tulis jauh lebih mahal.

Saat ini Yusuf menjual produksinya dengan harga Rp120.000 sampai Rp250.000 untuk batik katun, dan sekitar Rp700.000 untuk batik sutra. Dengan harga yang relatif mahal bagi masyarakat Lebak, batik sutra kurang dinikmati.

Melihat masyarakat semakin menyukai produksinya, Yusuf optimistis, lima tahun ke depan batik Lebak bisa menembus pasar di luar Lebak. Sikap optimistis itu tampak pada sorot matanya yang seolah berkata tak ada kata menyerah demi batik Lebak. Apalagi Yusuf, lelaki ramah ini, sedikit-banyak punya pengetahuan mengelola bisnis, yang didapat ketika bersekolah di SMK.

Menurut Yusuf, kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti Festival Seni Multatuli perlu diperbanyak. Dengan kegiatan semacam itu, otomatis masyarakat luas akan lebih mengenal Lebak dengan seluruh kekayaan budaya dan sejarahnya.

Upaya dan kerja keras yang dilakukan Yusuf selaras dengan pesan Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, ketika membuka Festival Seni Multatuli: Beri ruang untuk seni dan kaum muda.

Keterangan foto: Muhammad Yusuf, pemilik Imah Batik Sahate yang memproduksi batik Leeak, dengan ramah melayani tamunya.

Menu