Kabar

PERJALANAN MEMBANGUN KEBERLANJUTAN EKOSISTEM BUDAYA

Platform Indonesiana membawa misi lebih dari sekadar koordinator penyelenggaraan festival di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini disampaikan Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid dalam sesi tanya jawab dengan wartawan menjelang soft opening International Gamelan Festival 2018, Rabu (9/8).

Bagi Hilmar, indikator keberhasilan penyelenggaraan festival bukan hanya dari seberapa banyak pengunjung yang hadir. Melainkan, dari keberlanjutan festival yang diselenggarakan. “Buat saya itu (banyaknya pengunjung) sekunder. Karena kalau sekarang di-boost besar-besaran tapi kemudian tidak ada lagi, buat apa?” kata Hilmar.

Oleh karena itu, dalam membantu penyelenggaraan festival-festival di berbagai daerah, Indonesiana fokus menumbuhkan komitmen dan memupuk rasa kepemilikan para stakeholder di tingkat daerah. Hilmar menjelaskan bentuk komitmen bisa dilihat dari mulai dianggarkannya pembiayaan festival dalam rancangan APBD untuk menjamin keberlangsungannya.

Sementara, rasa kepemilikan, menurut Hilmar, bisa dipupuk dengan meningkatkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari komunitas, pemerintah daerah, sampai pihak swasta. Menurutnya, keterlibatan swasta dalam penyelenggaraan festival juga merupakan indikator keberhasilan sebuah festival.

“(Dukungan) swasta di sini enggak cuma dari perusahaan besar dalam bentuk CSR. Saya bicara swasta ini termasuk warung bakso dan para pengusaha kuliner lain yang ada di kota tersebut dan mendapat manfaat langsung dari orang yang datang,” jelas Hilmar.

Membangun Kelembagaan

Hilmar kemudian menambahkan, satu hal yang juga menjadi fokus Indonesiana adalah membangun kelembagaan festival, terutama untuk menjaga komitmen penyelenggaraan festival. “Salah satu fokus (Indonesiana) adalah memperkuat kelembagaan ya. Jadi betul setelah selesai ini (targetnya) ada organisasinya jalan,” kata Hilmar.

Menurutnya, festival yang terlembaga dengan baik akan dapat diselenggarakan dengan lebih maksimal. Selama ini tugas dan fungsi panitia festival kerap tumpang tindih dan direktur festival biasanya dijejali segala urusan. Mulai dari urusan administratif, teknis, hingga keputusan-keputusan yang menyangkut ranah kreatif. Oleh karena itu kelembagaan festival yang matang dapat memperjelas tugas dan fungsi masing-masing panitia.

Memperkuat Riset dan Pengarsipan

Kendala lain yang juga sering ditemui dalam penyelenggaraan festival di Indonesian selama ini ialah perihal riset. Perencanaan festival yang sering kali mendadak karena tidak ada lembaga yang matang menyebabkan kualitas riset untuk perencanaan konsep dan substansi festival tidak maksimal. Alhasil festival yang digelar pun terkesan generik. Padahal kemunungkinan pengembangan suatu festival bisa sangat luas.

“Ini yang mau kita support melalui platform Indonesiana,” kata Hilmar. Dukungan itu diberikan melalui tim pengelolaan pengetahuan Indonesiana.

Bukan hanya merencanakan pengembangan festival, tim pengelolaan pengetahuan ini juga berperan untuk melakukan pengarsipan terhadap aset-aset budaya suatu daerah. Hal ini dilakukan sebagai satu langkah untuk membentuk sebuah pusat data kebudayaan yang bisa diakses masyarakat untuk kemudian dipergunakan untuk memperkuat kebudayaan di daerah masing-masing.

Selain itu, pengarsipan yang tertata dengan baik dan aksesibilitas informasi juga dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan keingintahuan masyarakat. Dua hal yang merupakan cikal bakal rasa memiliki masyarakat terhadap satu aset kebudayaan sehingga dapat membantu keberlanjutan ekosistem budaya yang telah dibangun.

Menu