Kabar

NAPAS ANTIKOLONIAL DAN ANTIFEODALISME MUSEUM MULTATULI

Sejak diresmikan pada 11 Februari 2018, Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, makin ramai dikunjungi orang. Bahkan para turis dari mancanegara. Penyelenggaraan Festival Seni Multatuli 2018 semakin mengangkat eksistensi Museum Multatuli di mata masyarakat luas.

Menurut catatan Wawan Ruswandi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak, hingga Agustus 2018, tercatat 13.060 orang mengunjungi Museum Multatuli. “Yang datang bukan hanya dari daerah Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Kami catat, ada yang dari Belanda. Itu paling banyak. Dari Jerman, dari Inggris, dari Spanyol, dari Korea. Banyak pula dari Australia, kemudian dari China dan Singapura. Komunitas pembaca Max Havelaar dari Belgia bahkan sengaja datang untuk melihat museum. Kemudian dari Vietnam, ini cukup aneh juga. Ketika datang meraka menyerahkan buku Max Havelaar terjemahan bahasa Vietnam,” papar Wawan. Hal ini dia sampaikan dalam sambutan dalam acara peresmian Festival Seni Multatuli yang berlangsung di aula Museum Multatuli (6/9/2018).

Museum yang beralamat Jl. Alun-alun Timur No. 8, Rangkasbitung Barat, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten ini bernapaskan antikolonialisme dan antifeodalisme. Napas ini diilhami semangat Eduard Douwes Dekker alias Multatuli lewat roman Max Havelaar (1860).

Bila di daerah-daerah lain semangat antikolonialisme diserukan oleh bumiputra, kalangan keraton yang tidak sudi berkompromi pada Belanda, dan lain-lain, antikolonialisme di Lebak justru disuarakan seorang Belanda. Dekker, yang pernah menjabat Asisten Residen Lebak itu, bermukim di Rangkasbitung pada Januari-Maret 1856

Museum Multatuli menyajikan empat tema besar, yang terbagi dalam tujuh ruangan. Keempat tema itu: masuknya kolonialisme ke Nusantara, Multatuli dan karyanya, sejarah Banten dan Lebak, serta Rangkasbitung masa kini.

Catatan, pada 2017, Museum Multatuli memiliki 34 koleksi, sebagian berupa replika dan sebagian artefak asli hibah dari Museum Multatuli Amsterdam. Pengunjung bisa menyaksikan buku Max Havelaar edisi pertama bahasa Prancis yang terbit pada 1876. Selain edisi Prancis, terpajang pula buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa.

Roman Max Havelaar menjadi koleksi unggulan Museum Multatuli. Lewat roman inilah Multatuli menyuarakan amarahnya terhadap praktik Tanam Paksa dan sikap sewenang-wenang para feodalis lokal.

Tidak Mudah

Dengan mengangkat semangat antikolonial dan antifeodalisme, Museum Multatuli diharapkan dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk berjumpa dengan “Max Havelaar-Max Havelaar” di masa kini yang menularkan semangat antikolonial dan antifeodalisme itu.

Dalam wawancara, Bonnie Triyana, pemimpin Redaksi Historia, salah seorang penggagas museum, mengakui bahwa pada awalnya tidaklah mudah meyakinkan masyarakat Lebak untuk membangun sebuah tempat di mana mereka, dengan memori kolektifnya, bisa berkaca diri. Apalagi tempat itu seolah justru mengagungkan sosok yang dicap kolonialis, Multatuli.

Penolakan itu semata karena pengetahun kita atas sejarah bangsa sendiri sangat lemah dan apriori. Tidak bisa lain, dialog yang terus-menerus dengan para pemangku kepentingan mesti dilakukan. Terutama dengan kaum muda yang semakin jauh dengan sejarah Lebak. Maka, tidak berlebihan bila pendekatan sejarah menjadi titik tolak Festival Seni Multatuli. Menurut Bonnie, hanya senilah yang mampu melumerkan sikap-sikap apriori dalam memandang sejarah.

Ide pendirian Museum Multatuli sudah muncul sejak 2009. Ide ini digodok Bonnie dan tiga kawannya, Kurie Suditomo, mantan wartawan Tempo; Bambang Eryudhawan dari Ikatan Arsitek Indonesia; dan Ubaidillah Muchtar, yang kini menjadi Kepala Museum Multatuli.

Ide tersebut ternyata tidak langsung dapat dieksekusi. Baru pada 2014, lima tahun kemudian, ide tersebut disambut Pemkab Lebak, dan diresmikan pada 11 Februari 2018, sembilan tahun sejak gagasan dimunculkan.

Upaya Meramaikan Museum

Di bawah Ubaidillah Muchtar, museum terus berusaha mengajak khalayak untuk menikmati sejarah dengan murah. Karena itu, museum tidak memungut tiket masuk. Sejak Juli 2018 museum juga mengundang sekolah-sekolah maupun komunitas untuk meramaikannya dengan berbagai kegiatan. Promosi lewat media sosial juga digencarkan.

Sebagai sebuah lokus kebudayaan, kata Ubaidillah, museum juga perlu memberi setuhan-sentuhan yang pas buat kaum muda. Maka konsep “instagramable” juga diterapkan. Penyediaan suvenir juga diperhatikan. Untuk itu, tak jauh dari museum terdapat toko suvenir batik Lebak, Imah Batik Sahate.

“Kami pernah kedatangan seratus pengunjung dari Jakarta. Mereka dari awal meminta naik becak. Setelah naik becak mereka minta ke tempat oleh-oleh. Dari museum, masyarakat bukan hanya mendapatkan pengetahuan, tapi juga peluang untuk memajukan ekonomi. Jadi, saya yakin perputaran ekonominya baik,” kata Ubaidillah.

Lebih jauh Ubaidillah mengatakan, warga sekitar juga bisa mendirikan homestay untuk mengakomodasi wisatawan yang ingin menginap. Sebab, jumlah hotel di Rangkasbitung memang belum cukup banyak.

Menu