Kabar

MEMBANGUN EKOSISTEM KEBUDAYAAN LEWAT SEJARAH

Pengalaman Multatuli di masa silam menjadikan Kabupaten Lebak kaya akan narasi sejarah. Karena itu, mengemas sejarah sebagai peluang untuk mengembangkan kebudayaan dan pariwisata, narasi sejarah akan digiatkan oleh Pemkab.

“Sejarah itu serius, tinggal bagaimana kita mengemasnya jadi asyik,” kata Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya. Hal itu disampaikan oleh Bupati dalam pembukaan Festival Seni Multatuli, (6/9/2018), di Museum Multatuli. Iti bahkan berharap dapat memfilmkan kisah Saidjah dan Adinda, dua tokoh dalam roman karya Multatuli, Max Havelaar.

Menurut Iti, Max Havelaar karya sastra yang dahsyat. Hingga kini sudah diterjemahkan dalam 46 bahasa dan dibaca banyak orang di seluruh dunia. “Ya, aku mau dibaca! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda-tanda zaman; oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu, yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang; oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergejolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang adalah sebagian dari kerajaan Belanda. Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, dan Batak,” ujar Iti mengutip roman.

Max Havelaar ditulis setelah Multatuli menyaksikan sendiri praktik Tanam Paksa oleh pemerintah kolonial yang sarat kesewenang-wenangan. Multatuli memang terhitung sebentar di Lebak, tidak sampai tiga bulan bertugas sebagai Asisten Residen Lebak pada 1856. Namun kesaksiannya terhadap praktik Tanam Paksa terasa membekas. Di kemudian hari ia meluapkan amarahnya dalam roman tersebut. Kini Max Havelaar dianggap warisan penting sejarah, bahkan sampai dijuluki novel pembunuh kolonialisme oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

“Festival Seni Multatuli yang dimulai hari ini merupakan bagian dari potongan puzzle untuk meneguhkan komitmen sekaligus ikhtiar kita, masyarakat Lebak, untuk mampu memaknai jalan panjang yang akan kita jalani bersama. Bahkan mungkin tidak akan pernah berujung sepanjang generasi Lebak, yaitu berjuang bersama membawa kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Lebak,” ungkap Iti lebih jauh.

Festival Seni Multatuli 2018 diharapkan pula dapat mendorong penghargaan terhadap nilai-nilai humanisme serta kemanusiaan yang inklusif. Inilah nilai-nilai yang memandang semua perbedaan sebagai rahmat dan kekayaan sebagai sebuah bangsa.

Mengangkat Pariwisata

Festival Seni Multatuli 2018 merupakan bagian dari platform kebudayaan Indonesiana. Iti berharap, platform kebudayaan ini masih mendukung festival hingga tiga tahun ke depan. Dengan demikian ekosistem kebudayaan yang tercipta dapat memajukan pariwisata di Lebak dapat terwujud.

“Nanti, ke depan, kita kumpulkan paguyuban becak. Becaknya dihias untuk menjemput wisatawan dari stasiun menuju destinasi-destinasi wisata. Maka Lebak dapat semakin dikenal khalayak seiring popularitas Max Havelaar dan Multatuli,” janji Iti.

Keterangan foto: Bupati Kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya, memberi sambutan dalam pembukaan pembukaan Festival Seni Multatuli, (6/9/2018), di Museum Multatuli. Iti berharap tiga tahun ke depan, platform Indonesia tetap mendukung festival agar terbangun ekosistem kebudayaan yang dapat memajukan pariwisata di Lebak.

Menu