Kabar

BERI TEMPAT PADA KESENIAN DAN KAUM MUDA

Sastra yang baik memiliki dua manfaat sekaligus, yaitu menghibur dan mendidik. Dalam konteks ini karya Multatuli, Max Havelaar, menemukan perannya. Pembaca tidak hanya disuguhkan pada cerita yang menyenangkan, tetapi mampu memberikan pencerahan, yakni menemukan inti sari peradaban.

Lewat roman ini, mata para petinggi kerajaaan Belanda terbuka, dan kemudian melahirkan politik etis. Inilah politik balas jasa Negeri Belanda untuk Hindia Belanda dengan menyejahterakan pribumi lewat pertanian, irigasi, kesehatan, dan pendidikan. Maka tidak berlebihan bila roman ini membuka cakrawala para pendiri Republik seperti Sukarno.

Pada titik inilah sastra menjadi energi kreatif dalam menjaga semangat humanisme itu. Jika kita hanya memuja Multatuli semata-mata sebagai sosok, tak banyak yang kita dapatkan. Harus muncul kesadaran bahwa Multatuli lewat karyanya telah mengabarkan hukum-hukum universal yang resonansinya menjalar bertahun-tahun. Melewati framen-fregmen kehidupan hingga sampai pada pikiran dan tindakan kita hari ini.

Demikian butir-butir yang disampaikan Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam sambutannya sebelum membuka secara resmi Festival Seni Multatuli, yang akan berlangsung berlangsung 6-9 September 2018. Hilmar mengatakan, Festival Seni Multatuli memiliki keunikan dibandingkan dengan festival lain. Festival ini merespons gagasan Multatuli dalam bentuk-bentuk lainnya seperti teater, puisi, musik, seni rupa, bahkan opera.

“Saya cukup berbahagia ketika mendapatkan kabar bahwa ada 920 puisi dari 283 penyair yang melakukan transliterasi, menginterpretasikan ulang pemahaman para penyair mengenai Multatuli. Bagi saya, ini adalah pencapaian yang cukup menarik,” ujar Hilmar Farid.

Selain itu ada juga 10 komunitas teater Banten yang juga merespons berdasarkan novel Multatuli. Ditambah lagi dengan pementasan “Opera Saija-Adinda” yang digarap oleh pianis Ananda Sukarlan.

Jauh sebelum festival semacam ini, ujar Hilmar lebih jauh, sejumlah sastrawan juga terinspirasi oleh Multatuli. “Sebut saja Rendra dan Pramoedya Ananta Toer. Rendra pernah menulis antologi puisi berjudul Orang-orang Rangkasbitung yang diterbitkan pada 1993. Kegelisahan Multatuli direpresentasikan dengan begitu tragis dan memilukan. Sementara Pramoedya memposisikan roman ini sebagai pemantik karya-karyanya sehingga berani menuliskan problematika sosial dengan kritikan-kritikannya yang tajam. Bahkan pada sebuah wawancara, Pram berani mengatakan bahwa ketika seorang politikus tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanisme secara modern dan politikus tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus kejam.”

Peran Kaum Muda

Melihat betapa banyak komunitas seni dan kaum muda di Lebak yang terlibat dalam festival, Hilmar berharap energi kaum muda itu bisa mendapatkan penyalurannya. Terutama lewat seni. “Anak-anak muda sangat energik menyelenggarakan Festival Seni Multatuli ini. Tadi pagi saya jam 6 sudah sampai di sini, fotografer sudah datang. Dia sudah sibuk mengambil gambar. Ini energi kreatif.”

Menurut Hilmar, Kabupaten Lebak punya banyak peninggalan sejarah yang bisa menjadi modal narasi. Lewat narasi itu pula yang menjadi semangat festival.

“Siapa yang harus mengolah narasi ini agar bisa menjadi produk-produk yang kemudian bisa dinikmati orang dan juga mengerakkan perekonomian? Kaum muda. Jadi, kalau boleh saran, beri ruang yang luas bagi kaum muda untuk berkreasi. Cintai mereka. Cintai hasil karya-karya mereka. Insyaallah nanti hasilnya kita tuai bersama. Lebak akan menjadi pusat kegiatan kreatif, pusat kebudayaan di Provinsi Banten ini. Masyarakatnya tidak lagi mengalami rasa sakit, tapi kebahagiaan dan kemakmuran bersama,” kata Hilmar menutup sambutannya.

Keterangan foto: Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, menandatangani secara simbolis buku kumpulan puisi bertema Multatuli, didampingi Wawan Ruswandi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Lebak, usai meresmikan pembukaan Festival Seni Multatuli (6/9/2018)

Menu