Kabar

MULTATULI DAN UPAYA MERANGKAI ZAMRUD KHATULISTIWA

Tentu Anda pernah mendengar ungkapan zamrud khatulistiwa. Kendati demikian, tak banyak yang tahu siapa yang memopulerkannya pertama kali. Memang, ungkapan ini, yang dimaksudkan untuk menggambarkan kemolekan Nusantara, dicipta dari serangkaian kata-kata.

Ungkapan zamrud khatulistiwa diilhami oleh kata-kata Eduard Douwes Dekker (1820-1887) alias Multatuli. Dalam karya sastranya Max Havelaar, of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy—Max Havellar, atau lelang kopi Maskapai Dagang Belanda—dia menyebut Indonesia sebagai Insulinde, yang katanya “...slingert om den evenaar, als een gordel van smaragd... (keindahan yang ada di sekitar khatulistiwa, seperti sabuk zamurd).

Sebagai platform gotong-royong kebudayaan yang merangkai berbagai festival kebudayaan di berbagai daerah, ungkapan zamrud khatulistiwa kiranya perlu kita populerkan kembali sebagai roh Indonesiana. Ia terasa cocok untuk membangkitkan imajinasi keindahan pulau-pulau, bangsa-bangsa, dan kebudayaan-kebudayaan di Nusantara.

Digagas oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Indonesiana dimaksudkan untuk menjawab persoalan tiadanya standar festival budaya secara nasional. Karena itu, Indonesiana dirancang bukan sekadar rangkaian festival, melainkan jaringan kerja budaya di Indonesia.

Lebih daripada itu, suatu koinsiden, Indonesiana diluncurkan secara resmi tahun 2018. Tepat 90 tahun yang lalu, 1928, kita mencatat peristiwa penting: Sumpah Pemuda. Inilah peristiwa yang menandai upaya konkret para pemuda di tahun 1928 untuk menghimpun bangsa- bangsa di Nusantara menjadi satu kesatuan menuju suatu tatanan politik yang dibangun bersama sebagai bangsa yang merdeka.

Mereka berikrar: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tanah air yang dimaksud oleh para pemuda itu tentunya 17.000 lebih pulau dengan seluruh kebudayaannya. Dengan kata lain, bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang dibentuk dari beragam bangsa yang ada di Kepulauan Nusantara.

Hal paling menarik, para pemuda di tahun 1928 itu sudah menyadari bahwa tiap bangsa yang membentuk Indonesia memiliki hak hidup sesuai kebudayaannya. Karena itu mereka berikrar: “…mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Dengan memilih kata “menjunjung”, mereka memahami bahwa keragaman budayaan yang ada adalah kaki-kaki yang membentuk Indonesia.

Kesadaran lebih ditegaskan lagi oleh Sukarno. Dalam pidatonya pada Kongres Ke-8 BAPERKI (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), 14 Maret 1963, ia menyatakan: “Di Indonesia kita tidak mengenal minoritas. Di Indonesia kita hanya mengenal suku-suku [...] Suku itu apa artinya? Suku itu artinya sikil, kaki. Ya, suku artinya kaki. Jadi bangsa Indonesia itu banyak kakinya, seperti luwing, Saudara-Saudara. Ada kaki Jawa, kaki Sumatera, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki Peranakan Tionghoa, kaki Peranakan. Kaki dari satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia.”

Imajinasi Indonesia Baru

Indonesiana adalah upaya membangun imajinasi baru tentang menjadi Indonesia lewat pengalaman bersentuhan antar-kebudayaan. Pengalaman ini menjadi semakin penting ketika mobilitas manusia semakin tinggi.

Proses menjadi Indonesia ini tidaklah berhenti pada tataran menjadi manusia Indonesia yang bersifat lokal, melainkan lebih jauh ke tingkat dunia. Dengan menjadi manusia Indonesia yang mendunia, referensi kebudayaan kita semakin luas.

Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Sosrokartono, Kartini, Ki Hajar Dewantara, HOS Cokroaminoto, dan para pendiri Indonesia adalah manusia-manusia Indonesia yang berwawasan dunia. Gagasan mereka tentang demokrasi dan Indonesia merdeka adalah hasil pengembaraan intelektual mereka dengan kebudayaan dunia.

Konsep ini sejalan dengan pengertian kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang given dan statis, melainkan produk pergulatan manusia yang tak pernah selesai dalam ruang sosial dan kultural yang konkret. Karena itulah, UU Kebudayaan 2017 memberi tambahan kata penting ‘Pemajuan’. Dikatakan dalam UU, “Pemajuan Kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.”

Menu