Kabar

SURAT CINTA ANANDA SUKARLAN UNTUK MULTATULI

Karya yang luar biasa bukan hanya tak lekang dimakan waktu, ia pun niscaya tak akan pernah berhenti ditafsirkan. Beralih dari wahana yang satu ke wahana yang lain. Begitu pula karya sastra yang hebat tak akan berhenti dalam lembar-lembar buku, tapi akan terus menginspirasi dan berubah menjadi bentuk-bentuk lain. Seperti karya Eduard Douwes Dekker alias Multatuli berjudul Max Havelaar yang akan diadaptasi menjadi opera oleh pianis kenamaan Indonesia, Ananda Sukarlan dalam gelaran Festival Seni Multatuli (FSM).

Bagi Ananda Sukarlan, Multatuli merupakan inspirasinya dalam berkarya. Bahkan sejak masih kuliah musik di Belanda pada 1990, pianis kelahiran Jakarta tersebut sudah berkeinginan untuk membuat musik berdasarkan karya-karya Multatuli.

Itulah mengapa ketika pengelola Museum Multatuli di Rangkasbitung memintanya untuk terlibat dalam FSM, Ananda tak ragu untuk ikut ambil bagian. Untuk gelaran festival ini ia membuat opera yang mengambil cuplikan adegan Saidjah dan Adinda dari buku Max Havelaar. Semacam surat cintanya untuk Multatuli. “Saidjah dan Adinda selalu ada di benak saya,” kata Ananda.

Meski demikian, Ananda mengatakan persiapan opera ini bukan tanpa kendala. Ia mengakui waktu persiapan yang singkat sempat menjadi masalah. “Masalahnya, saya hanya diberi beberapa minggu untuk menulisnya (aransemen), dan saya juga harus mengirimkannya kepada para musisi dengan jarak waktu yang cukup untuk mereka pelajari,” ungkap Ananda.

Untungnya, ia terbantu dengan keterlibatan dua penyanyi opera yang sudah sering bekerja bersamanya dalam pementasan ini. Mereka adalah penyanyi sopran Mariska Setiawan yang akan memerankan Adinda dan penyanyi tenor Widhawan yang akan memerankan Saidjah. Itulah mengapa ia merasa pementasan ini seperti didukung semesta!

Ananda menjelaskan, ia mengambil dua adegan dari buku Max Havelaar sebagai cerita utama pementasan opera pada September mendatang. Kedua adegan itu ialah dialog Saidjah dan Adinda sebelum sebelum Saidjah pergi merantau, dan kepulangan Saidjah ke kampungnya hanya untuk menemukan Adinda sedang sekarat akibat ditusuk tentara Belanda.

“Selain itu, saya juga mengambil adegan awal (Max Havelaar). Saat Saidjah masih sangat muda dengan ayahnya, kemudian ayahnya ditangkap Belanda,” ungkap Ananda. Ia menjelaskan, adegan tersebut akan ditampilkan dalam bentuk tarian yang koreografinya diserahkan kepada Chendra Panatan. Untuk aransemennya, ia akan menggabungkan piano, selo, flute, marimba, dan beberapa alat perkusi lain.

Ia juga mengungkapkan semua adegan ini merupakan cuplikan dari satu pementasan opera yang lebih panjang dan rencananya akan dipentaskan pada 2020 mendatang untuk merayakan 200 tahun Multatuli. Jangan lewatkan dan jadilah salah satu orang yang menyaksikan cuplikan pementasan Opera Saidjah dan Adinda oleh Ananda Sukarlan di gelaran Festival Seni Multatuli pada 8 September mendatang. Festival Seni Multatuli akan diselenggarakan pada 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Menu